Jakarta – Bank Indonesia (BI) semakin mengandalkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai instrumen utama untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Hingga April 2026, nilai outstanding SRBI melonjak drastis hingga mencapai Rp957,91 triliun, meningkat signifikan dari posisi akhir Desember 2025 yang berada di angka Rp730,90 triliun.
Besarnya nilai instrumen ini didominasi oleh sektor perbankan dengan porsi mencapai 70,35 persen atau senilai Rp673,90 triliun. Sementara itu, investor nonbank mencatatkan porsi 23,78 persen, yang terdiri dari kepemilikan asing sebesar Rp192,17 triliun, investor domestik Rp35,66 triliun, dan kategori lainnya Rp56,19 triliun.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai SRBI kini telah bertransformasi menjadi tulang punggung strategi stabilisasi BI. Menurutnya, penggunaan SRBI menjadi langkah strategis agar bank sentral tidak terus-menerus menguras cadangan devisa melalui intervensi langsung di pasar valuta asing.
Dengan menawarkan imbal hasil yang kompetitif dan risiko rendah, SRBI berhasil menarik minat investor untuk menempatkan dananya pada aset berbasis rupiah. Langkah ini menciptakan permintaan terhadap mata uang domestik yang membantu meredam tekanan kurs. BI pun mengombinasikan instrumen ini dengan kebijakan intervensi valas serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk mengendalikan volatilitas pasar.
Namun, masifnya penerbitan SRBI membawa konsekuensi tersendiri bagi sektor perbankan. Yusuf memperingatkan bahwa tingginya imbal hasil SRBI, yang berada di kisaran 6,5 hingga 7 persen dengan risiko nyaris nol, cenderung membuat perbankan lebih memilih menempatkan dana mereka di instrumen BI daripada menyalurkan kredit ke sektor riil.
Kondisi tersebut berdampak pada tertahannya pertumbuhan kredit karena perbankan cenderung bersikap hati-hati. Selain itu, yield SRBI yang tinggi turut menjaga suku bunga domestik tetap tinggi, sehingga dunia usaha masih harus menanggung beban biaya dana atau cost of fund yang mahal.
Yusuf menambahkan, meski efektif sebagai penahan gejolak jangka pendek, SRBI bukanlah solusi permanen bagi stabilitas rupiah. BI dinilai sedang berupaya membeli waktu melalui instrumen ini. Oleh karena itu, penguatan fundamental ekonomi melalui kebijakan fiskal yang kredibel, konsistensi iklim investasi, dan penguatan sumber devisa jangka panjang dari pemerintah menjadi sangat krusial agar beban stabilisasi tidak hanya bertumpu pada kebijakan moneter.



















