Menilik Realisasi Capex dan Prospek Kinerja Emiten LQ45 Tahun Ini

persen

Menilik Realisasi Capex dan Prospek Kinerja Emiten LQ45 Tahun Ini

Jakarta – Realisasi belanja modal atau capital expenditure (capex) emiten di Bursa Efek Indonesia sepanjang semester I 2026 menunjukkan tren yang beragam di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan. Perusahaan-perusahaan besar cenderung bersikap selektif dalam menggelontorkan dana investasi, menyesuaikan dengan kebutuhan struktural bisnis serta dinamika pasar global.

Beberapa sektor, terutama telekomunikasi, terpantau paling agresif dalam melakukan ekspansi guna memperkuat infrastruktur jaringan dan teknologi 5G. Sebaliknya, emiten di sektor alat berat dan pertambangan tampak lebih berhati-hati dalam menjaga arus kas akibat fluktuasi harga komoditas.

PT XL Axiata Tbk (EXCL) menjadi salah satu perusahaan yang meningkatkan anggaran capex dari Rp15 triliun menjadi Rp20 triliun pada tahun 2026. Dana tersebut difokuskan untuk optimasi spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz serta perluasan layanan 5G. Sementara itu, PT Indosat Tbk (ISAT) juga menaikkan anggaran belanja modalnya menjadi Rp23 triliun untuk mempercepat investasi infrastruktur serupa.

Di sisi lain, PT United Tractors Tbk (UNTR) mengambil langkah konservatif dengan memangkas anggaran capex dari US$880 juta menjadi US$650 juta. Langkah ini diambil sebagai respons atas penurunan permintaan alat berat dan penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyatakan bahwa pola capex emiten LQ45 tahun ini sangat bergantung pada kebutuhan sektoral masing-masing.

“Namun, ada beberapa sektor yang memang membutuhkan capex cukup besar karena kebutuhan bisnisnya bersifat struktural. Telco menjadi salah satu contoh,” ujar Rully dalam keterangan resmi, Selasa (8/9/2026).

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ester Mulyani, menilai bahwa meski realisasi capex di semester I masih mixed, belanja modal korporasi secara historis biasanya meningkat pada paruh kedua tahun berjalan. Namun, ia mengingatkan bahwa ketidakpastian suku bunga Bank Indonesia, volatilitas rupiah, dan kondisi geopolitik dapat memicu penundaan proyek.

“Jadi, alokasi modal Astra tetap besar, tetapi manajemen sekarang lebih selektif dan akan menyesuaikan investasi berikutnya dengan peluang serta return yang ditawarkan,” jelas Ester mengenai strategi PT Astra International Tbk (ASII) yang merealisasikan capex sekitar Rp12 triliun untuk investasi strategis per Juni 2026.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, menambahkan bahwa risiko sisa anggaran tahun ini tetap ada, terutama dari sisi ketidakpastian permintaan pasar. Meski demikian, ia optimistis kinerja emiten hingga 2027 tetap positif jika perusahaan mampu mengelola efisiensi dengan baik.

“Risiko sisa anggaran terutama berasal dari ketidakpastian permintaan, harga komoditas, serta penundaan proyek,” papar Arinda kepada media, Selasa (8/9/2026).

Secara makro, minat investasi di Indonesia dinilai masih kuat dengan realisasi semester I mencapai Rp1.010,6 triliun. Para analis menyarankan investor untuk tetap mencermati kemampuan emiten dalam mengubah investasi modal menjadi pertumbuhan pendapatan dan efisiensi operasional di masa depan.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar