Jakarta – PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) menunjukkan perbaikan kinerja keuangan yang signifikan sepanjang semester I-2026. Emiten ini berhasil melipatgandakan laba kotor konsolidasi hingga lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pencapaian ini sekaligus menekan angka rugi bersih perusahaan secara drastis dibandingkan catatan pada semester I-2025.
Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis pada 28 Agustus 2026, laba bruto perusahaan melonjak 102,9% menjadi US$ 28,23 juta. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan laba bruto semester I-2025 yang tercatat sebesar US$ 13,91 juta. Pendapatan konsolidasi perseroan sendiri tumbuh tipis 0,46% menjadi US$ 173,02 juta.
Perbaikan posisi keuangan ini didorong oleh keberhasilan perusahaan dalam meminimalisir beban kerugian, terutama karena tidak adanya lagi rugi atas divestasi entitas anak yang sempat mencapai US$ 96,87 juta pada tahun lalu. Akibatnya, rugi periode berjalan TOBA menyusut menjadi US$ 19,42 juta dari sebelumnya US$ 115,34 juta.
Direktur dan Chief Financial Officer TBS, Juli Oktarina, menyatakan bahwa kinerja ini merupakan bukti nyata dari keberhasilan transformasi portofolio perusahaan menuju bisnis infrastruktur berkelanjutan. Ia menyebut bahwa saat ini bisnis non-batubara telah menjadi mesin utama penghasil kas bagi perseroan.
“Inilah transisi yang kami janjikan, dan kuartal kedua menunjukkan kami berada di jalur yang benar untuk bertransformasi menjadi bisnis infrastruktur berkelanjutan,” ujar Juli dikutip dari rilis resmi perusahaan, Jumat (28/8/2026).
Struktur pendapatan perusahaan kini didominasi oleh sektor non-batubara yang mencakup pengelolaan limbah dan ekosistem kendaraan listrik. Sektor tersebut menyumbang 66,5% dari total pendapatan konsolidasi, atau lebih dari dua kali lipat dibandingkan kontribusi bisnis batubara yang hanya sebesar 31,4%.
Sektor pengelolaan limbah menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan mencapai US$ 105,9 juta, meningkat 77,8% secara tahunan. Sementara itu, sektor kendaraan listrik melalui Electrum mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 184% menjadi US$ 9,1 juta. Sektor ini bahkan berhasil mencatatkan laba kotor positif sebesar US$ 0,4 juta, berbalik dari posisi rugi pada tahun lalu.
Dari sisi neraca, perusahaan melaporkan posisi kas sebesar US$ 94,7 juta per 30 Juni 2026. Manajemen juga berhasil menurunkan utang bank jangka pendek sebesar 30,9% secara tahunan, serta melakukan penataan ulang profil jatuh tempo utang melalui refinancing obligasi. Langkah-langkah tersebut dinilai memperkuat kapasitas perusahaan dalam mendanai target netralitas karbon pada tahun 2030 mendatang.
“Kami punya likuiditas untuk mendanai rencana pertumbuhan dan tetap berada di jalur target netralitas karbon 2030. Fondasinya sudah ada, dan kami akan terus membangun di atasnya,” tambah Juli.






















