Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis anggapan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang dalam keadaan sulit bagi masyarakat.
Purbaya menegaskan bahwa Indonesia tidak sedang menuju krisis ekonomi seperti yang terjadi pada periode 1997-1998.
Ia menilai narasi yang menyebutkan kehidupan sehari-hari masyarakat terasa sulit tidak sepenuhnya benar.
“Jadi enggak benar kalau orang bilang angka ekonomi bagus, tapi kehidupan sehari-hari susah. Mungkin belum sesenang yang mereka harapkan,” ujar Purbaya dalam sebuah wawancara.
Keyakinan tersebut didasarkan pada pemantauan langsung aktivitas ekonomi di berbagai daerah yang dinilainya masih cukup ramai.
Purbaya mengaku rutin turun langsung ke lapangan untuk melihat geliat belanja masyarakat di pasar-pasar.
“Saya kan sering jalan-jalan tuh ke pasar-pasar. Bagus juga. Terus kalau kita jalan Sabtu Minggu aja dimana-mana kan masih masyarakat pada belanja,” ungkapnya.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih luas, ia juga menugaskan anak buahnya memantau titik-titik ekonomi di berbagai wilayah.
Laporan yang diterimanya menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi di kota-kota besar seperti Yogyakarta dan Surabaya masih menunjukkan kepadatan.
“Jogja macet, Surabaya macet, pasarnya di sini macet,” tuturnya.
Terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Purbaya menyebut hal itu dipicu oleh sentimen negatif sesaat.
Ia optimistis tekanan terhadap mata uang nasional dapat diatasi melalui koordinasi yang solid antara pemerintah dan Bank Indonesia.
“Itu harusnya bisa diperbaiki dengan koordinasi yang baik-baik antara pemerintah, Departemen Keuangan, dengan Bank Indonesia,” pungkasnya.






















