Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi peringatan potensi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang disebut mengintai sedikitnya lima sektor industri dalam tiga bulan ke depan. Ia mengatakan pemerintah akan mempelajari persoalan itu lebih jauh sambil tetap mendorong pertumbuhan ekonomi agar bergerak lebih cepat.
Menurut Purbaya, naik-turun perusahaan dalam dunia usaha merupakan hal yang wajar. Ia menilai yang perlu dilihat bukan hanya perusahaan yang tumbang, tetapi juga yang tumbuh.
“Saya akan dorong lagi pertumbuhan ekonomi agar lebih cepat, tapi kalau masalah perusahaan jatuh bangun akan selalu ada,” kata Purbaya saat ditemui di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (6/5).
Purbaya menyebut pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen secara tahunan semestinya ikut mendorong penciptaan lapangan kerja dan kemunculan perusahaan baru. Karena itu, ia meminta agar kondisi ekonomi dilihat secara seimbang.
“Lima (perusahaan) jatuh, ada yang bangkit enggak? Anda enggak lihat kan perusahaan yang baru? Berapa, tahu enggak jumlahnya berapa? Enggak kan? Kita harus lihat balance-nya,” ujar Purbaya.
“Harusnya kalau pertumbuhan yang cepat kayak kemarin, itu harusnya ada penciptaan kerja baru dan banyak perusahaan baru yang timbul,” jelasnya.
Meski begitu, ia mengakui dalam persaingan bisnis akan selalu ada perusahaan yang tidak bertahan. Pemerintah, kata dia, akan menjaga likuiditas tetap aman, menyiapkan stimulus yang cukup, dan terus memperbaiki iklim usaha.
Purbaya mencontohkan insentif bagi sektor otomotif pada Juni 2026 yang ditargetkan menyasar 200 ribu kendaraan listrik, terdiri atas 100 ribu motor listrik dan 100 ribu mobil listrik. Untuk sektor tekstil yang dinilai sulit berkembang karena kerap dianggap sebagai sunset industry, pemerintah juga menambah dukungan pembiayaan.
“Tekstil enggak bisa tumbuh karena dianggap sunset industry itnudstri, (jadi) dia susah sekali dapet pinjaman utang,” ujar Purbaya.
Ia mengatakan alokasi kredit untuk sektor furnitur hingga tekstil sudah dinaikkan dari Rp200 miliar menjadi Rp2 triliun. Pelaku usaha dapat mengakses pembiayaan melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dengan bunga sekitar 6 persen.
Di sisi lain, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengingatkan potensi gelombang PHK dalam tiga bulan ke depan yang disebut mengancam setidaknya lima sektor industri. Presiden KSPI Said Iqbal mengatakan sinyal pengurangan tenaga kerja itu sudah mulai disampaikan sejumlah perusahaan kepada serikat buruh di level pabrik.
“Realitanya, laporan dari anggota KSPI, bukan orang lain, serikat pekerja di perusahaan,” kata Said dalam konferensi pers virtual, Senin (4/5).
Said menyebut perusahaan-perusahaan kini mulai mengajak buruh berdiskusi soal kemungkinan efisiensi tenaga kerja. Tekanan biaya produksi, pelemahan rupiah, serta dampak perang di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi dan bahan baku impor menjadi pemicunya.
Ia merinci, sektor yang paling rawan terdampak adalah industri tekstil dan produk tekstil (TPT), termasuk benang, kain, hingga polyester. Menurut dia, sektor ini paling cepat merasakan tekanan karena bergantung pada pasar ekspor dan bahan baku yang sensitif terhadap gejolak global.
Sektor kedua adalah industri plastik. Said menjelaskan, sebagian besar bahan baku plastik masih diimpor, seperti polimer dan petrokimia. Pelemahan rupiah terhadap dolar AS membuat biaya produksi membengkak, sementara harga jual naik di tengah daya beli masyarakat yang menurun.
Tekanan itu, lanjut Said, juga berpotensi merembet ke industri elektronik. Banyak komponen elektronik masih memakai material plastik sebagai frame, casing, hingga komponen pendukung lain. Jika harga plastik terus naik dan produksi ditekan, sektor elektronik ikut masuk jalur efisiensi.
Industri otomotif juga dinilai rawan terdampak karena sangat bergantung pada komponen berbahan plastik, mulai dari spakbor hingga bagian interior dan eksterior. Kenaikan biaya bahan baku dikhawatirkan memicu penyesuaian produksi dan tenaga kerja.
Sektor terakhir adalah industri semen yang kini menghadapi tekanan berbeda, yakni kelebihan pasokan di tengah permintaan yang melemah. Said mengatakan masuknya pabrik-pabrik baru justru memperketat persaingan saat konsumsi semen sedang turun akibat perlambatan ekonomi.
“Permintaan terhadap semen kan berkurang. Udah mah oversupply, pabrik baru bikin lagi kemudian izinnya diberikan dan mulai operasional, permintaan semen akibat semen turun, ya otomatis terjadi efisiensi buruh dan pekerja, PHK,” pungkasnya.





















