Rekor Penjualan ORI030 Terlampaui, SR025 Diprediksi Tetap Jadi Incaran Investor

Rekor Penjualan ORI030 Terlampaui, SR025 Diprediksi Tetap Jadi Incaran Investor

Jakarta – Pemerintah Indonesia mencatatkan rekor penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel secara daring tertinggi dalam sejarah melalui penerbitan Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI030.

Seluruh kuota sebesar Rp40 triliun telah habis terjual pada Selasa (28/7/2026), jauh sebelum masa penawaran berakhir pada 30 Juli 2026.

Tingginya antusiasme masyarakat memaksa pemerintah melipatgandakan kuota awal yang semula hanya dipatok sebesar Rp20 triliun.

Pemesanan tersebut terbagi atas tenor tiga tahun (ORI030T3) sebesar Rp34 triliun dan tenor enam tahun (ORI030T6) senilai Rp6 triliun.

Pemerintah memutuskan untuk tidak menambah kuota kembali setelah target maksimal tersebut terpenuhi.

Pencapaian ini melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh ORI027 dengan total nilai penjualan sebesar Rp37,35 triliun pada Februari 2025.

Faktor utama yang memicu lonjakan minat investor adalah imbal hasil yang lebih menarik dibandingkan seri sebelumnya.

ORI030 menawarkan kupon sebesar 6,9 persen untuk tenor tiga tahun dan 7 persen untuk tenor enam tahun.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan ORI027 yang memberikan kupon masing-masing sebesar 6,65 persen dan 6,75 persen.

Chief Operating Officer Bareksa, Ni Putu Kurniasari mengatakan, kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian memicu investor untuk mencari instrumen yang aman.

“Karena iklim ekonomi yang sedang tidak pasti saat ini mendorong nasabah untuk lebih memilih aset yang konservatif seperti SBN, apalagi suku bunganya naik dibanding sebelumnya,” ujar Putu, Rabu (29/7/2026).

Senada, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menyebutkan bahwa tingkat kupon yang ditawarkan menjadi daya tarik utama bagi investor.

Menurutnya, imbal hasil ini merupakan yang tertinggi dalam setahun terakhir dan menjadi salah satu seri ORI paling kompetitif dalam beberapa tahun ke belakang.

“Dengan BI rate saat itu berada di 5,75%, spread sekitar 115 bps hingga 125 bps cukup menarik sehingga investor memperoleh imbal hasil yang kompetitif dengan risiko yang sangat rendah karena dijamin penuh oleh pemerintah,” jelas Yusuf.

Yusuf memproyeksikan minat terhadap SBN ritel akan terus bertahan hingga akhir tahun 2026 seiring dengan meningkatnya literasi keuangan masyarakat.

“Faktor yang paling menentukan tetap berada pada daya saing kupon terhadap BI Rate dan yield pasar, stabilitas rupiah, serta arah kebijakan moneter Bank Indonesia,” tutur Yusuf.

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan masih akan merilis beberapa seri SBN ritel lainnya di sisa tahun 2026.

Jadwal tersebut meliputi SR025 pada Agustus, SWR007 pada September, SBR015 pada akhir September, serta ST017 pada November mendatang.

Putu menambahkan, seri SR025 yang akan datang diprediksi bakal kembali menyedot perhatian karena karakteristiknya sebagai instrumen syariah.

“Apalagi ini seri SBN syariah, yang biasanya minatnya lebih tinggi dibanding konvensional, karena produk syariah dengan imbal hasil yang bagus itu jarang,” tambah Putu.

Secara keseluruhan, pasar menilai instrumen SBN ritel akan tetap menjadi pilar pembiayaan domestik yang kuat bagi negara.

Hal tersebut dapat tercapai selama fundamental ekonomi nasional dan kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah tetap terjaga dengan baik.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar