Rupiah Menguat 1,11% Tembus Level Rp 17.663 per Dolar AS

persen

Jakarta – Nilai tukar rupiah di pasar spot mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Senin (15/6/2026). Hingga pukul 12.20 WIB, mata uang Garuda berada di level Rp 17.663 per dolar Amerika Serikat (AS), yang mencerminkan apresiasi sebesar 1,11% dibandingkan penutupan perdagangan akhir pekan lalu di posisi Rp 17.860 per dolar AS.

Kenaikan nilai tukar rupiah ini terjadi di tengah sentimen positif yang menyelimuti pasar keuangan kawasan Asia. Seluruh mata uang di Asia kompak bergerak di zona hijau terhadap dolar AS pada sesi perdagangan siang ini. Rupiah tercatat menjadi mata uang dengan performa paling kuat dibandingkan mata uang regional lainnya.

Di bawah rupiah, rupee India mencatatkan penguatan sebesar 0,60%, disusul oleh baht Thailand dengan kenaikan 0,57%. Mata uang Asia lainnya juga turut menguat, seperti won Korea yang naik 0,48%, peso Filipina sebesar 0,42%, dan dolar Taiwan yang menguat 0,35%. Sementara itu, ringgit Malaysia, dolar Singapura, yen Jepang, yuan China, serta dolar Hong Kong masing-masing mencatatkan penguatan tipis dengan rentang kenaikan antara 0,004% hingga 0,28%.

Penguatan mata uang regional ini sejalan dengan pelemahan indeks dolar AS. Indeks yang mengukur kekuatan mata uang Paman Sam terhadap sekeranjang mata uang utama dunia tersebut terpantau berada di level 99,39. Angka ini menunjukkan penurunan dari posisi sebelumnya di level 99,74 pada akhir pekan lalu. Pelemahan indeks dolar AS ini memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk melakukan konsolidasi dan penguatan.

Selain kinerja mata uang, pasar modal domestik juga menunjukkan tren positif pada periode yang sama. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kenaikan sebesar 5,03% ke level 6.309 pada penutupan sesi pertama perdagangan hari ini. Beberapa emiten yang masuk dalam kategori indeks LQ45, seperti DEWA, BUMI, dan AMMN, tercatat menjadi top gainers yang mendorong laju indeks.

Data pasar menunjukkan bahwa antusiasme investor terhadap aset berisiko sedang meningkat, yang tercermin dari reli di pasar saham serta penguatan mata uang regional. Kondisi makroekonomi yang cenderung stabil serta pergerakan indeks dolar AS yang melandai menjadi katalis utama bagi investor dalam melakukan aksi beli. Pelaku pasar kini menanti kelanjutan sentimen eksternal, terutama kebijakan moneter dari bank sentral AS yang kerap menjadi acuan bagi pergerakan nilai tukar global. Hingga tengah hari, aktivitas perdagangan di pasar valuta asing terpantau berjalan cukup dinamis dengan tekanan jual pada dolar AS yang masih mendominasi pasar.

Rekomendasi