Jakarta – Saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH) mencatatkan lonjakan harga signifikan sebesar 67,62% dalam sepekan terakhir, ditutup pada level Rp 880 per lembar pada perdagangan Jumat (31/7/2026).
Reli harga saham ini mencerminkan tingginya antusiasme pelaku pasar terhadap emiten tersebut di tengah dinamika sektor infrastruktur telekomunikasi nasional.
Pengamat Pasar Modal, Fauzan Luthsa, menilai ketertarikan investor terhadap BACH didorong oleh dua faktor utama, yakni perubahan persepsi pasar mengenai model bisnis perusahaan dan masuknya Grup Djarum sebagai pemegang saham pengendali melalui PT Global Teknologi Perkasa (GTP).
Fauzan menyatakan bahwa selama ini banyak pelaku pasar hanya mengenal BACH sebagai penyedia genset.
Padahal, menurutnya, berdasarkan prospektus perseroan, BACH telah mengelola sekitar 41.000 site telekomunikasi.
Hal ini menempatkan perusahaan sebagai pemain kunci dalam ekosistem infrastruktur telekomunikasi nasional.
“Masuknya Grup Djarum memang menjadi katalis yang meningkatkan perhatian investor terhadap BACH. Namun, saya melihat pasar juga mulai memahami model bisnis perseroan secara lebih utuh,” ujar Fauzan sebagaimana dikutip dari keterangannya, Sabtu (1/8/2026).
Ia menambahkan bahwa pada akhirnya kinerja fundamental perusahaan tetap menjadi penentu utama pergerakan harga saham di masa depan.
Di sisi lain, Pengamat CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli, memproyeksikan sektor infrastruktur telekomunikasi akan terus tumbuh dalam tiga hingga lima tahun ke depan.
Tingginya permintaan akan menara telekomunikasi dan jaringan serat optik menjadi pemicu utama pertumbuhan tersebut.
“Masih besar 3-5 tahun ke depan, kebutuhan untuk tower dan fiber optic masih tinggi karena kebutuhan customer dan corporate yang terus meningkat,” ungkap Dipo.
Dipo menekankan bahwa transisi teknologi dari jaringan 4G ke 5G menuntut densitas menara yang lebih tinggi melalui pembangunan microcells.
Selain itu, kebutuhan akan infrastruktur pendukung seperti listrik, kabel bawah laut, dan pusat data berbasis cloud computing turut memperkuat urgensi sektor ini dalam ekonomi digital.
Menurutnya, peran perusahaan pendukung telekomunikasi sangat strategis karena mereka menjadi penentu keandalan konektivitas.
“Sangat strategis karena mereka adalah penentu keandalan dan keberlanjutan infrastruktur telekomunikasi dan ekonomi digital,” jelas Dipo.
Ia menyebutkan bahwa kondisi geografis Indonesia yang menantang serta pasokan listrik yang belum stabil di sejumlah daerah membuat peran perusahaan pendukung menjadi krusial.
“Tanpa reliability dari internet dan telekomunikasi, ekonomi digital tidak bisa terbangun,” tegas Dipo.
Sementara itu, Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Ian Yosef M. Edward, menyoroti pentingnya sistem daya dalam pembangunan Base Transceiver Station (BTS).
Ia menyatakan bahwa ketersediaan daya listrik merupakan prioritas utama sebelum pembangunan menara dilakukan.
“Pemilihan pemasangan BTS yang pertama dilihat ketersediaan sistem daya dan keandalannya. Jadi merupakan prioritas utama dalam pembangunan infrastruktur BTS,” ujar Ian.
Ia menjelaskan bahwa konsep redundansi daya, seperti kombinasi antara jaringan PLN, baterai, dan genset cadangan, sangat diperlukan untuk menjamin ketersediaan layanan telekomunikasi yang berkelanjutan bagi masyarakat.



















