Tokyo – Bursa saham di seluruh kawasan Asia mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Jumat (10/7/2026).
Optimisme investor di pasar modal didorong kuat oleh lonjakan harga saham sektor semikonduktor dan perusahaan berbasis kecerdasan buatan (AI).
Sentimen positif ini muncul meskipun tensi geopolitik di Timur Tengah akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas.
Pelaku pasar tampak mengabaikan ancaman gangguan pasokan energi yang sempat membuat harga minyak mentah Brent naik hingga 5% dalam sepekan terakhir.
Perhatian utama investor kini tertuju pada debut pencatatan saham atau American Depositary Receipts (ADR) produsen chip asal Korea Selatan, SK Hynix, di bursa Amerika Serikat.
Saham SK Hynix mencatatkan kenaikan hampir 3%, sementara Samsung Electronics turut terkerek naik sekitar 6%.
Kondisi tersebut berdampak positif pada indeks KOSPI Korea Selatan yang melesat lebih dari 5% pada penutupan perdagangan.
Indeks Nikkei 225 di Jepang juga terpantau menguat sebesar 1,8% di tengah sentimen kebijakan domestik.
“Saya terus memantau perkembangan di Timur Tengah dan situasinya memang tidak terlihat baik. Namun, investor tampaknya sangat tangguh menghadapi risiko tersebut, dengan saham teknologi kembali menjadi pendorong utama kenaikan pasar,” ujar Chief Market Strategist ATFX Global di Sydney, Nick Twidale, Jumat (10/7/2026).
Walaupun pasar saat ini berada dalam tren positif, Twidale memberikan peringatan mengenai potensi risiko yang masih mengintai.
“Kita memang mengawali perdagangan Asia dengan sentimen positif. Namun, saya masih sangat berhati-hati karena pasar belum sepenuhnya memperhitungkan risiko jika Selat Hormuz kembali ditutup,” katanya.
Di sisi lain, pasar keuangan Jepang mendapatkan dorongan setelah Menteri Keuangan Satsuki Katayama mengisyaratkan adanya rencana pemerintah untuk mengarahkan dana pensiun agar lebih banyak berinvestasi pada aset domestik.
Langkah ini direspons positif oleh pasar dengan penguatan mata uang yen sebesar 0,4% ke level 161,69 per dolar AS.
Senior Fixed Income Strategist State Street Investment Management, Masahiko Loo, menilai kebijakan tersebut jauh lebih efektif daripada intervensi langsung.
“Dengan cadangan devisa lebih dari US$ 1 triliun, intervensi tetap menjadi pilihan. Namun, mendorong investor institusi domestik tetap menempatkan investasinya di dalam negeri merupakan cara yang lebih berkelanjutan untuk menopang nilai tukar yen,” jelas Loo.
Sementara itu, SK Hynix berhasil menghimpun dana sekitar US$ 26,5 miliar melalui penawaran harga ADR sebesar US$ 149 per saham.
Dana hasil aksi korporasi tersebut rencananya akan digunakan untuk membiayai pembangunan pabrik baru dan investasi peralatan teknologi AI.
Investment Manager Asia Equity Income Jupiter Asset Management, Sam Konrad, memprediksi kesuksesan SK Hynix akan berdampak pada Samsung Electronics.
“Jika valuasi SK Hynix meningkat, hal itu juga berpotensi mendukung kenaikan valuasi Samsung, terutama ketika perusahaan mengumumkan rencana pengembalian dana kepada pemegang saham,” ungkap Konrad.





















