Wall Street Menguat Didorong Saham AI dan Penurunan Harga Minyak

Kholida Rahman

Wall Street Menguat Didorong Saham AI dan Penurunan Harga Minyak

New York – Bursa saham Amerika Serikat mencatatkan reli signifikan pada perdagangan Senin (21/9), dipicu oleh lonjakan saham sektor teknologi yang berfokus pada kecerdasan buatan (AI).

Indeks S&P 500 menguat 1,49 persen dan ditutup pada posisi 7.764,70.

Indeks Komposit Nasdaq mencatat performa impresif dengan kenaikan 2,26 persen ke level 27.122,09.

Pencapaian Nasdaq tersebut sekaligus mencetak rekor penutupan baru untuk pertama kalinya sejak Juni.

Indeks Dow Jones Industrial Average turut menghijau dengan pertumbuhan 366,19 poin atau 0,71 persen menjadi 52.048,83.

Sektor teknologi AI menjadi motor utama penggerak pasar modal Wall Street.

Saham Intel melesat tajam sebesar 12 persen.

Advanced Micro Devices (AMD) mengalami kenaikan sekitar 10 persen, membawa valuasi kapitalisasi pasarnya menembus angka US$1 triliun.

Penguatan juga menyasar saham Qualcomm yang naik lebih dari 9 persen.

Pemulihan indeks ini terjadi setelah mayoritas pasar saham AS mengalami tekanan pada pekan sebelumnya.

Kala itu, Dow Jones mencatatkan kinerja mingguan terburuk sejak Maret dengan penurunan 1,7 persen.

Sentimen pasar mendapatkan suntikan positif dari penurunan harga minyak mentah global.

Harga minyak mentah AS merosot 4,5 persen menjadi US$95,78 per barel.

Harga minyak Brent pun turun 3,4 persen ke level US$100,34 per barel.

Penurunan harga energi ini terjadi di tengah dinamika geopolitik di Timur Tengah.

Pemerintah Amerika Serikat saat ini tengah memantau ketegangan antara AS dan Iran.

Presiden AS Donald Trump menyatakan keterbukaan terhadap jalur diplomasi.

Ia mengungkapkan kemungkinan untuk bertemu dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, di sela-sela Sidang Umum PBB pekan ini, sebagaimana dikutip dari Fox News.

Di sisi lain, imbal hasil obligasi Treasury turut memberikan dukungan terhadap pasar saham.

Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun turun lebih dari 4 basis poin menjadi 4,951 persen.

Imbal hasil tenor 30 tahun juga menyusut ke angka 5,284 persen.

Meski pasar optimis, pelaku pasar tetap mewaspadai tekanan inflasi yang masih membayangi.

Ed Yardeni, presiden Yardeni Research, dalam catatannya pada Senin (21/9) yang dikutip dari Yardeni Research, mengingatkan dampak jangka panjang harga energi.

“Harga energi yang tetap tinggi dalam jangka panjang semakin memperkuat argumen untuk pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut,” ujar Ed Yardeni.

Ia menambahkan bahwa risiko pasokan minyak masih menjadi ancaman serius bagi stabilitas pasar.

“Semakin lama guncangan energi ini berlanjut, semakin besar risiko terjadinya efek inflasi putaran kedua,” tegas Ed Yardeni.

Ketidakpastian ini turut menyoroti agenda pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping pekan ini.

Kedua pemimpin negara dijadwalkan membahas isu strategis termasuk kecerdasan buatan, tarif perdagangan, dan mineral kritis.

Sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah melakukan pertemuan awal dengan Wakil Perdana Menteri Cina He Lifeng.

Kepala Ekonom LPL Financial Jeffrey Roach menyatakan bahwa konflik geopolitik yang memengaruhi harga energi menjadi faktor utama sikap hawkish The Fed.

Menurut Jeffrey Roach yang dikutip dari LPL Financial, Ketua The Fed Kevin Warsh telah mengaitkan prospek inflasi dengan stabilitas pasar minyak global.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar