Jakarta – Pemerintah Indonesia resmi membuka masa penawaran Sukuk Ritel (SR) seri SR025 kepada masyarakat mulai 21 Agustus hingga 16 September 2026.
Penerbitan instrumen investasi berbasis syariah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam memenuhi target pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2026.
Kementerian Keuangan menargetkan perolehan dana sebesar Rp20 triliun dari penerbitan seri terbaru ini.
Chief Operating Officer Bareksa, Ni Putu Kurniasari, menyatakan bahwa kondisi pasar keuangan yang sedang volatil saat ini justru meningkatkan daya tarik instrumen pendapatan tetap.
“SR025 berpotensi menawarkan imbal hasil yang relatif menarik bagi investor,” ujar Putu dikutip dari laporan resmi, Kamis (20/8/2026).
Instrumen ini hadir dengan dua pilihan tenor, yakni tenor tiga tahun (SR025T3) dan tenor lima tahun (SR025T5).
Para investor ritel dapat menikmati keuntungan berupa kupon tetap yang dibayarkan setiap bulan hingga masa jatuh tempo.
Selain itu, SR025 memiliki fitur fleksibilitas karena dapat diperdagangkan di pasar sekunder sebelum masa jatuh tempo berakhir.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menyoroti pentingnya penetapan tingkat kupon yang strategis oleh pemerintah.
Menurut Rizal, daya tarik instrumen ini sangat bergantung pada perbandingan yield SBN, suku bunga acuan, serta tingkat inflasi.
“Pricing harus menarik bagi investor sekaligus menjaga keberlanjutan beban bunga APBN,” ujar Rizal dalam analisisnya.
Pemerintah dituntut untuk menyeimbangkan antara memberikan imbal hasil kompetitif bagi masyarakat dan mengelola beban utang negara.
Rizal memproyeksikan bahwa kupon SR025 kemungkinan akan lebih tinggi dibandingkan seri sebelumnya, SR024, yang berada di kisaran 5,55% hingga 5,90%.
Hal ini dilakukan guna menjaga minat investor di tengah banyaknya pilihan instrumen investasi lain, termasuk deposito perbankan dan SBN di pasar sekunder.
Bareksa memprediksi kupon untuk SR025T3 akan berada di rentang 6,6% hingga 7%, sementara untuk SR025T5 diproyeksikan mencapai 6,7% hingga 7,1%.
Meskipun diprediksi akan menarik minat pasar, analis memperkirakan perolehan dana SR025 mungkin tidak akan menyamai rekor penjualan ORI030 yang mencapai Rp40 triliun.
Faktor utama yang akan mendorong penyerapan SR025 adalah adanya dana segar dari SBN yang jatuh tempo serta karakteristik syariah yang memiliki basis investor loyal.
SR025 merupakan satu dari empat instrumen SBN ritel yang dijadwalkan meluncur hingga akhir tahun 2026.
Pemerintah masih memiliki agenda penerbitan CWLS Ritel seri SWR007, Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015, dan Sukuk Tabungan (ST) seri ST017.
Secara akumulatif, target penerbitan SBN ritel pemerintah sepanjang tahun 2026 diproyeksikan berada di kisaran Rp150 triliun hingga Rp170 triliun guna mendukung stabilitas fiskal nasional.





















