Sulap Botol Plastik Bekas Jadi Sapu Lidi Bernilai Ekonomi

persen

Sulap Botol Plastik Bekas Jadi Sapu Lidi Bernilai Ekonomi

Jakarta Selatan – Inovasi pengelolaan sampah anorganik kini digalakkan oleh warga di RT.005/RW.002, Petukangan Utara, Jakarta Selatan.

Mereka sukses menyulap limbah botol plastik bekas menjadi produk sapu lidi yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Kegiatan produktif ini telah berlangsung selama lima bulan terakhir sebagai wujud implementasi Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026.

Regulasi tersebut mengamanatkan pemilahan serta pengolahan sampah langsung dari sumbernya untuk mengurangi beban limbah di lingkungan.

Proses produksi sapu lidi plastik ini dimulai dengan perataan bentuk botol menggunakan udara panas dari mesin pengering rambut.

Setelah rata, botol kemudian dipotong memanjang sebelum dimasukkan ke dalam alat pemadat buatan warga secara otodidak.

Hasil pemadatan tersebut menghasilkan lidi plastik dengan panjang sekitar 70 centimeter yang siap dirakit.

Warga memproduksi dua jenis sapu, yakni sapu jalan yang membutuhkan 150 batang lidi dan sapu kasur yang memerlukan 50 batang lidi.

Dalam sehari, kelompok warga ini mampu memproduksi hingga 10 unit sapu lidi dari bahan baku botol plastik bekas.

Pasokan bahan baku diperoleh melalui pengumpulan sampah rumah tangga serta area olahraga di sekitar lingkungan setempat.

Ketua RT.005/RW.002, Syaifullah, menyatakan bahwa inisiatif ini mendapat dukungan penuh dari masyarakat sekitar.

“Saya kan share juga, siapa yang mau sedekah botol, mereka mengantarkan sendiri sampahnya ke kami,” ungkap Syaifullah dikutip dari pernyataan resminya, Sabtu (22/8/2026).

Syaifullah menambahkan bahwa keunggulan produk ini terletak pada kekuatan batangnya yang lebih tahan lama dibandingkan sapu lidi organik.

Selain itu, sapu plastik hasil daur ulang ini juga diklaim jauh lebih mudah dibersihkan dari sisa kotoran yang menempel.

Produk sapu lidi plastik tersebut dijual dengan harga Rp35 ribu untuk ukuran besar dan Rp25 ribu untuk ukuran kecil.

Pemasaran produk tidak hanya menjangkau warga lokal, tetapi juga telah merambah pasar di luar daerah.

“Pasar penjualannya juga cukup luas, ada yang pesan dari Sulawesi, Makassar, terus Jawa Timur juga ada,” jelas Syaifullah.

Dalam satu bulan, kelompok pengrajin ini mampu menjual hingga 50 unit sapu lidi plastik ke berbagai daerah.

Selain melalui penjualan langsung, warga juga memanfaatkan platform daring untuk memasarkan produk mereka.

Syaifullah berharap gerakan ini dapat terus berkembang sebagai solusi kreatif dalam mengurangi tumpukan sampah plastik.

“Warga jadi lebih kreatif dan tentunya ada penghasilan tambahan juga. Saya berharap kegiatan ini bisa berkembang lebih besar lagi,” kata Syaifullah.

Program ini membuktikan bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi komoditas yang menguntungkan.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar