New York – Indeks utama Wall Street mencatatkan penguatan pada perdagangan Jumat (7/8/2026) menyusul rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang menunjukkan adanya penurunan lapangan kerja secara tak terduga pada Juli.
Kondisi ekonomi tersebut memicu optimisme pelaku pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat, The Fed, akan menahan suku bunga pada pertemuan kebijakan moneter September mendatang.
Hingga pukul 09.58 waktu New York, Dow Jones Industrial Average terpantau naik 55,37 poin atau 0,10% ke level 53.940,47.
Indeks S&P 500 turut menguat 0,25% menjadi 7.728,83, sementara Nasdaq Composite melonjak 0,69% ke posisi 26.530,07.
Laporan Departemen Tenaga Kerja AS mencatat nonfarm payrolls mengalami penurunan sebesar 23.000 pekerjaan selama bulan Juli.
Angka tersebut tercatat jauh lebih lemah dibandingkan proyeksi para ekonom yang disurvei Reuters, yang sebelumnya memperkirakan adanya penambahan 80.000 lapangan kerja.
“Data ini memberi ruang bagi The Fed untuk menunda kenaikan suku bunga pada September,” ujar Anthony Saglimbene, Chief Market Strategist Ameriprise Financial, sebagaimana dikutip dari laporan Reuters, Sabtu (8/8/2026).
Melemahnya pasar tenaga kerja ini secara langsung mengubah ekspektasi pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter ke depan.
Data dari LSEG menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada September turun menjadi sekitar 20%, dari sebelumnya berada di level 55% sebelum laporan ketenagakerjaan dirilis.
Di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh, bank sentral AS dinilai minim memberikan panduan eksplisit mengenai arah kebijakan moneternya.
Situasi ini membuat setiap rilis data ekonomi, terutama yang berkaitan dengan inflasi dan pasar tenaga kerja, menjadi faktor penentu utama pergerakan pasar saham.
Meskipun demikian, sejumlah ekonom menilai bahwa pelemahan data ketenagakerjaan Juli belum tentu mencerminkan kondisi pasar tenaga kerja yang memburuk secara signifikan.
Pasar tenaga kerja dinilai masih berada dalam fase “slow hire, slow fire”, di mana aktivitas perekrutan dan pemutusan hubungan kerja berlangsung dengan kecepatan yang sama-sama lambat.
Dari 11 sektor di indeks S&P 500, tercatat lima sektor bergerak di zona hijau dengan sektor consumer discretionary menjadi penopang utama kenaikan.
Sebaliknya, sektor energi tercatat sebagai sektor dengan kinerja terlemah pada perdagangan hari ini.
Sentimen positif juga datang dari kuatnya musim laporan keuangan emiten di Amerika Serikat.
Saham perusahaan perangkat lunak kolaborasi Atlassian melonjak 34,5% setelah membukukan laba dan pendapatan kuartalan yang melampaui ekspektasi pasar.
Microchip Technology juga mencatatkan kenaikan 11,4% setelah memproyeksikan pendapatan kuartalan yang melampaui perkiraan analis.
Kinerja kedua perusahaan tersebut turut mengangkat indeks semikonduktor Philadelphia naik 2,3% serta indeks perangkat lunak dan layanan S&P 500 yang menguat 1,3%.
Saham perusahaan keamanan siber Cloudflare naik 12% setelah menaikkan proyeksi pendapatan sepanjang tahun, sementara saham Airbnb melesat 13,5% usai membukukan pendapatan kuartal II yang melampaui ekspektasi analis.
Di sisi lain, saham perusahaan teknologi periklanan Trade Desk anjlok 24,8% setelah memberikan proyeksi pendapatan kuartal III yang berada di bawah perkiraan pasar.
Secara mingguan, Wall Street berada di jalur penguatan yang solid dengan indeks S&P 500 dan Dow Jones berpotensi mencatat kinerja mingguan terbaik sejak April, sementara Nasdaq mencatatkan kenaikan mingguan terbesar sejak Mei.
Optimisme pasar turut didorong oleh kuatnya laporan keuangan emiten, terutama pada perusahaan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI).
Data LSEG I/B/E/S menunjukkan lebih dari 85% dari sekitar 400 perusahaan anggota S&P 500 yang telah melaporkan kinerja kuartalan berhasil membukukan laba di atas ekspektasi analis.
Angka tersebut melampaui rata-rata historis sebesar 68% yang tercatat sejak tahun 1994.























