Dolar AS Melemah Usai Data Tenaga Kerja Picu Spekulasi Suku Bunga

persen

Dolar AS Melemah Usai Data Tenaga Kerja Picu Spekulasi Suku Bunga

Jakarta – Nilai tukar mata uang dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan signifikan di pasar global pada Sabtu (8/8/2026) menyusul rilis data ketenagakerjaan yang berada di bawah ekspektasi pasar.

Pelemahan ini memicu pergeseran sentimen investor terkait arah kebijakan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).

Data terbaru dari Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan adanya kontraksi pada sektor tenaga kerja dengan hilangnya 23.000 lapangan pekerjaan selama Juli 2026.

Angka ini sangat kontras dengan proyeksi para ekonom dalam jajak pendapat sebelumnya yang sempat memperkirakan penambahan sekitar 80.000 lapangan kerja baru.

Meskipun tingkat pengangguran tercatat turun menjadi 4,1 persen, penurunan tersebut dibayangi oleh menyusutnya tingkat partisipasi angkatan kerja ke posisi 61,4 persen.

Angka partisipasi tersebut tercatat sebagai level terendah dalam kurun waktu hampir lima setengah tahun terakhir.

Kondisi ketenagakerjaan yang melesu ini memicu kekhawatiran mendalam mengenai hilangnya momentum pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat.

“Dolar turun terutama karena laporan ketenagakerjaan AS jauh lebih lemah dari perkiraan sehingga pasar mulai menggeser ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed,” ujar Thierry Wizman, Global FX and Rates Strategist Macquarie Group, sebagaimana dikutip pada Sabtu (8/8/2026).

Akibat data tersebut, pelaku pasar kini mulai memproyeksikan bahwa The Fed akan menahan diri dari rencana kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Berdasarkan data alat FedWatch CME, probabilitas bank sentral AS untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan September melonjak menjadi 56 persen, dibandingkan posisi hari sebelumnya yang berada di angka 45 persen.

Dampak dari perubahan ekspektasi ini terlihat jelas pada pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Yield Treasury tenor dua tahun, yang dikenal sangat sensitif terhadap kebijakan suku bunga, tercatat turun 5,19 basis poin ke level 4,193 persen.

Sementara itu, yield obligasi tenor 10 tahun juga mengalami penurunan sebesar 2,67 basis poin menjadi 4,643 persen.

Di pasar valuta asing, pelemahan dolar paling mencolok terjadi terhadap yen Jepang, di mana mata uang AS tersebut merosot 0,52 persen ke level 157,62 yen.

Pelemahan serupa juga terjadi terhadap mata uang euro, yang menguat 0,31 persen ke level US$ 1,1559.

Indeks dolar (DXY), yang menjadi tolok ukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama global lainnya, terpantau turun 0,46 persen ke posisi 99,49.

Ketidakpastian ekonomi ini turut menguntungkan aset safe haven seperti emas.

Harga emas spot melonjak tajam sebesar 2,28 persen menjadi US$ 4.336,09 per ons troi seiring dengan meningkatnya minat investor untuk mengamankan modal di tengah kekhawatiran terhadap prospek ekonomi AS.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar