500 Ribu Investor Antre Saham EMMI, Penawaran Umum Ditutup Hari Ini

Jakarta – Masa penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) akan berakhir pada Senin, 6 Juli 2026 pukul 09.00 WIB.

Para investor yang berminat memiliki saham perusahaan di sektor alat kesehatan ini memiliki waktu terbatas untuk menyelesaikan proses pemesanan melalui sistem elektronik.

Antusiasme pasar terhadap penawaran umum EMMI terpantau cukup tinggi sejak masa penawaran dibuka pada 2 Juli lalu.

Data dari platform Stockbit Sekuritas menunjukkan, hingga Senin dini hari pukul 00.10 WIB, terdapat 519.170 akun investor yang telah mengantre untuk mendapatkan saham tersebut.

Tingginya angka pemesanan ini memicu optimisme analis bahwa harga saham EMMI berpotensi mencatatkan kenaikan pada hari pertama pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Juli 2026.

Dalam aksi korporasi ini, EMMI melepas sebanyak 522.857.000 saham baru ke publik.

Jumlah tersebut setara dengan 30 persen dari total modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.

Perusahaan menetapkan harga penawaran sebesar Rp 470 per lembar saham.

Secara keseluruhan, target perolehan dana dari hajatan IPO ini mencapai Rp 245,74 miliar.

Direktur Utama Esa Medika Mandiri, Florian Chris Widjaja, menegaskan bahwa langkah ini merupakan fase krusial bagi perusahaan.

“IPO akan menjadi awal dari fase pertumbuhan baru bagi Esa Medika Mandiri,” ucap Florian seperti dikutip dari keterangan tertulis perusahaan, Kamis (2/7/2026).

Rencananya, dana segar hasil penawaran umum tersebut akan digunakan untuk memperkuat struktur keuangan dan ekspansi bisnis.

Sebesar Rp 50 miliar dialokasikan untuk pembayaran sebagian pokok pinjaman perusahaan.

Sekitar 6,4 persen dari total dana digunakan untuk belanja modal pembangunan gedung pabrik di Cikupa.

Sementara porsi terbesar, yakni 72,3 persen, akan difokuskan sebagai modal kerja.

Modal kerja tersebut mencakup pembelian barang untuk proyek softloan serta pengadaan bahan baku demi menunjang operasional bisnis.

Florian menjelaskan bahwa penguatan kapasitas usaha sangat mendesak seiring meningkatnya permintaan fasilitas kesehatan akan alat medis yang berkualitas.

Menurutnya, potensi pasar alat kesehatan di Indonesia masih sangat luas.

Pertumbuhan sektor ini didorong oleh modernisasi rumah sakit serta penguatan industri alat kesehatan dalam negeri.

“Dengan pengalaman lebih dari 25 tahun, jaringan distribusi nasional, fasilitas manufaktur lokal, serta kemitraan dengan berbagai prinsipal alat kesehatan, Perseroan berada pada posisi yang baik untuk menangkap peluang tersebut,” tambah Florian.

Esa Medika Mandiri sendiri memiliki portofolio produk yang menyasar layanan kritis seperti ruang operasi, ICU, hingga IGD.

Hingga saat ini, perseroan telah menjalin kerja sama dengan lebih dari 200 rumah sakit di seluruh Indonesia.

Kinerja keuangan perusahaan juga menunjukkan tren positif dengan mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 454,64 miliar pada 2025.

Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan 18,11 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di level Rp 384,93 miliar.

Laba bersih perusahaan melonjak tajam sebesar 188,23 persen menjadi Rp 32,44 miliar pada 2025.

Dalam proses IPO ini, PT BRI Danareksa Sekuritas dan PT Ina Sekuritas Indonesia ditunjuk sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

Sementara PT Yulie Sekuritas Indonesia Tbk dan PT Investindo Nusantara Sekuritas bertindak sebagai penjamin emisi efek.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar