Jakarta – Saham PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) mencatatkan performa gemilang di akhir pekan lalu dengan lonjakan harga sebesar 25 persen ke level Rp 290 per lembar saham.
Pencapaian tersebut menggenapi akumulasi kenaikan harga saham COCO sebesar 67,63 persen dalam kurun waktu lima hari perdagangan terakhir.
Sentimen positif ini dipicu oleh pengumuman rencana aksi korporasi besar berupa Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) III.
Perusahaan produsen kakao dan olahan cokelat ini membidik perolehan dana segar mencapai Rp 1,28 triliun melalui skema tersebut.
Dalam prospektus yang dirilis, emiten bersandi COCO ini berencana menerbitkan 10,68 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 120 per saham.
Harga tersebut terpantau berada di bawah nilai perdagangan saham perusahaan di pasar sekunder saat ini.
Manajemen juga menyertakan opsi pemanis berupa penerbitan waran sebagai pendamping.
Setiap pemegang 30 saham baru yang mengeksekusi haknya berhak mendapatkan 1 waran dengan harga pelaksanaan Rp 800 per saham di masa depan.
Jika seluruh waran tersebut dieksekusi oleh investor, perusahaan berpotensi memperoleh tambahan modal sebesar Rp 284,75 miliar.
Kendati demikian, pihak manajemen memberikan peringatan keras kepada para investor mengenai risiko dilusi yang cukup signifikan.
Pemegang saham yang memilih untuk tidak mengeksekusi haknya menghadapi potensi dilusi kepemilikan saham hingga 75 persen.
Angka dilusi tersebut bahkan berisiko membengkak menjadi 75,61 persen apabila seluruh Waran Seri I turut direalisasikan, dikutip dari keterangan resmi perusahaan, (12/2/2026).
Tujuan utama dari penggalangan dana ini adalah untuk memperkuat struktur permodalan dan memperbaiki kinerja operasional perusahaan.
Sebagian besar dana, yakni sekitar Rp 1,17 triliun, akan dialokasikan untuk membiayai akuisisi PT Sari Murni Abadi (PT SMA).
Sisa dana lainnya akan digunakan untuk modal kerja, pembelian bahan baku, riset pengembangan produk, hingga penguatan strategi pemasaran.
Langkah strategis ini merupakan upaya turnaround untuk mengoptimalkan pabrik baru di Sumedang yang memiliki kapasitas produksi hingga 20.000 ton per tahun.
Perusahaan saat ini sedang berupaya membalikkan keadaan setelah pada tahun 2025 mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 250,85 miliar.
Kerugian tersebut dipicu oleh tingginya beban operasional serta adanya penyisihan penurunan nilai aset, meskipun penjualan neto tercatat naik 2,48 persen menjadi Rp 165,08 miliar.
Aksi korporasi ini dipastikan berjalan mulus berkat dukungan penuh dari pemegang saham pengendali, Mahogany Global Investment Pte. Ltd.
Mahogany yang menguasai 51,32 persen saham COCO telah menyatakan komitmennya untuk mengeksekusi seluruh haknya sebanyak 5,48 miliar saham.
Selain itu, Mahogany juga bertindak sebagai pembeli siaga (standby buyer) yang akan menyerap sisa saham yang tidak diambil oleh pemegang saham publik.
Jadwal pelaksanaan hak akan dimulai dengan periode perdagangan HMETD pada 14 hingga 21 Juli 2026, sementara periode perdagangan waran berlaku hingga 10 Juli 2031.
Optimisme perusahaan didasarkan pada proyeksi Statista per April 2026 yang menyebut konsumsi cokelat nasional bakal tumbuh 4,13 persen per tahun hingga 2031.
COCO menargetkan penguatan dominasi di pasar domestik sekaligus memperluas jangkauan ekspor ke pasar strategis seperti China, India, dan Turki.























