Jakarta – Rupiah tertekan dolar AS pada awal perdagangan pekan ini, dipicu sentimen negatif global. Penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, disebut menjadi pemicu utama kekhawatiran investor.
Nilai tukar rupiah dibuka pada level Rp 16.724 per dolar AS. Data Bloomberg menunjukkan, pada pukul 09.20 WIB, rupiah berada di posisi Rp 16.733 per dolar AS, atau turun 0,05 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pengamat pasar uang, Lukman Leong, menyebutkan bahwa eskalasi risiko geopolitik global menjadi penyebab utama pelemahan rupiah.
Situasi ini mendorong investor untuk mengurangi investasi pada aset berisiko. Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut terdampak. Arus modal global pun cenderung mencari tempat aman di aset seperti dolar AS.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS setelah penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, memicu kekhawatiran geopolitik yang menekan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang,” kata Lukman.
Lukman memperkirakan, pergerakan rupiah hari ini akan berada pada rentang Rp 16.650 – Rp 16.800 per dolar AS, dengan kecenderungan melemah selama sentimen geopolitik belum mereda.
Sementara itu, pasar saham menunjukkan tren yang berbeda. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru dibuka di zona hijau pada Senin pagi, menguat 0,11 persen atau 9,897 poin ke level 8.758,029.
Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, IHSG dibuka pada posisi 8.778,732. Meskipun sempat fluktuatif di awal perdagangan, level tertinggi tercatat di 8.788,904. Sempat ada tekanan jual yang membawa IHSG turun ke level terendah harian di 8.732,319.
Aktivitas transaksi terpantau ramai sejak pembukaan, dengan volume mencapai 8,554 miliar saham dan nilai transaksi sekitar Rp 4,135 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat 593.451 kali.
Secara keseluruhan, pergerakan saham menunjukkan tekanan yang masih dominan, dengan 311 saham melemah, 245 saham menguat, dan 149 saham stagnan.
Sejumlah sektor menjadi penopang pergerakan indeks, di antaranya sektor transportasi dan logistik yang naik 3,26 persen, sektor bahan baku melonjak 1,83 persen, dan sektor energi menguat 1,40 persen. Sektor infrastruktur dan industri juga mengalami kenaikan tipis sebesar 0,16 persen.
Di sisi lain, beberapa sektor masih mengalami tekanan, seperti sektor properti yang turun 0,52 persen, konsumer siklikal melemah 0,42 persen, sektor keuangan turun 0,40 persen, sektor kesehatan terkoreksi 0,20 persen, konsumer non siklikal turun 0,15 persen, dan sektor teknologi melemah 0,03 persen.






















