Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa meyakini harga minyak dunia tidak akan mencapai US$200 per barel. Ia merespons proyeksi sejumlah ekonom global yang memperkirakan harga minyak berpotensi menembus level tersebut.
Purbaya menjelaskan, pada 2013, para ekonom juga pernah memprediksi hal serupa.
“Saya tunjukin, 2013 kalau enggak salah mereka (ekonom) bilang juga sama, harga minyak akan naik US$200 per barel. Naik sampai US$150 habis itu jatuh,” ujarnya.
Menurutnya, harga minyak akan kembali turun karena ekonomi dunia tidak akan mampu menyesuaikan diri dengan harga yang terlalu tinggi. Hal ini akan memicu resesi dan menurunkan permintaan.
“Jadi kalau US$200 per barel saya bilang, ya paling mungkin sebentar, satu menit, dua menit, habis itu jatuh lagi. Ketika jatuh, ini akan jatuh ke bawah,” paparnya.
Purbaya menekankan pentingnya memahami siklus pergerakan harga minyak dunia. Ia mempertanyakan siapa yang akan membeli jika harga minyak terlalu tinggi.
“Enggak akan US$200 per barel (harga minyak). Tenang aja, kalau US$200 per barel, resesi global akan terjadi, kalau terjadi demand turun kan? Demand turun, collapse, harga minyak jatuh tajam sekali, bisa ke bawah US$15 per barel, kalau mereka enggak hati-hati,” tegasnya.
Lebih lanjut, Purbaya mengatakan pemerintah akan menyesuaikan anggaran jika harga minyak menembus US$200 per barel. Namun, ia meyakini hal ini tidak akan terjadi, berkaca pada pengalaman 2013-2014.
“Saya bertaruh sama orang di depan umum, mereka bilang US$200 per barel, saya bilang enggak, (harga minyak) US$ 150 per barel habis itu jatuh,” imbuhnya.
Purbaya juga tidak terlalu khawatir dengan harga minyak dunia yang saat ini sudah menembus US$100 per barel. Menurutnya, level tersebut sudah masuk dalam perhitungan pemerintah.
“Harga minyak 116 aja masih tenang-tenang aja kan?” kata Purbaya di Istana Negara, Kamis (19/3).
Ia mengungkapkan, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berpotensi menembus level 3 persen jika harga minyak rata-rata di kisaran US$100 per barel. Namun, risiko ini bisa diatasi dengan upaya menjaga defisit.
Pemerintah juga akan melakukan langkah-langkah seperti penghematan dan peningkatan pendapatan untuk menjaga APBN tetap aman.
“Dan kita juga ada windfall profit kan. Kita akan maksimalkan windfall profit juga. Jadi, seharusnya enggak ada masalah,” pungkasnya.





















