Jakarta – Pemerintah berupaya menekan impor beras menir dengan memaksimalkan stok beras dalam negeri. Salah satu caranya adalah dengan mengolah beras menjadi menir melalui proses penggilingan.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan hal ini saat berada di Gudang Bulog Panaikang, Makassar, Minggu (5/4).
“Janganlah impor menir. Terus gimana caranya? Saya gilingkan. Ini beras bagus, ini aku menirkan. Selesai, kan? Yang penting beras,” tegas Amran.
Menurutnya, kebutuhan industri akan beras pecah atau menir dapat dipenuhi dari stok dalam negeri yang melimpah. Langkah ini diharapkan dapat menekan impor yang selama ini mencapai ratusan ribu ton.
“Biasanya impor itu sampai 200 sampai 500 ribu ton. Indonesia ada. Ayo, ambil di gudang kita. Karena dia butuh beras pecah, kita pecahkan dulu,” ujarnya.
Kebijakan ini juga sejalan dengan upaya optimalisasi stok beras nasional yang meningkat signifikan. Pemerintah mendorong pemanfaatan beras melalui berbagai skema, termasuk pengolahan, daripada terus menambah beban penyimpanan.
“Saya bilang tindaklanjuti, ada minta berikan. Karena beras ini, daripada sewa gudang, kita sudah sewa 2 juta ton kapasitas ini,” kata Amran.
Amran memastikan kebijakan hilirisasi beras ini dapat dijalankan kapan saja sesuai kebutuhan, mengingat ketersediaan beras yang mencukupi.
Selain itu, Perum Bulog juga tengah mengembangkan hilirisasi beras dengan mengolah beras turun mutu menjadi tepung beras. Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan impor tepung terigu.
Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani sebelumnya menyebut langkah ini mengadopsi praktik di Jepang.
“Seperti kalau di Jepang, kami akan kembangkan hilirisasi beras,” kata Rizal dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XI DPR RI, Kamis (2/4).
Beras yang mengalami penurunan mutu akan diolah kembali. Jika masih memenuhi standar, beras tersebut akan dipasarkan ulang. Namun, jika tidak lagi layak konsumsi, akan dialihkan menjadi tepung beras atau kebutuhan lain.
“Kalau sudah tidak layak sesuai standar, itu baru kita olah menjadi pakan ternak atau kita gunakan hilirisasi untuk menjadikan tepung,” ujarnya.
Rizal menambahkan bahwa volume beras turun mutu relatif kecil dibandingkan total produksi nasional.
“Yang turun mutu hampir 65 ribu ton, dibandingkan total produksi lebih dari 44 juta ton, itu hanya sekitar 0,15 persen,” pungkasnya.





















