Jakarta – Kinerja indeks Kompas100 mengalami tekanan berat sepanjang semester I-2026.
Hingga penutupan perdagangan Selasa (30/6/2026), indeks tersebut mencatatkan pelemahan sebesar 39,01 persen secara year to date.
Angka koreksi ini melampaui penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pada periode yang sama terkoreksi sebesar 34,74 persen.
Meskipun tertekan cukup dalam, para analis memandang prospek indeks Kompas100 pada semester II-2026 masih memiliki peluang untuk membaik.
Pemulihan pasar diprediksi akan berlangsung secara bertahap seiring dengan penyesuaian valuasi saham yang kini dinilai lebih atraktif.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Brigita Kinari, menilai bahwa koreksi hampir 40 persen telah membawa banyak saham berkapitalisasi besar atau blue chip ke level harga yang menarik secara historis.
Menurutnya, ruang penurunan bagi indeks saat ini mulai lebih terbatas meskipun volatilitas jangka pendek masih membayangi pasar.
“Dengan demikian, kami melihat semester kedua lebih sebagai fase bottoming dan akumulasi dibandingkan reli yang berlangsung agresif,” ujar Brigita, Selasa (30/6/2026).
Hingga saat ini, pasar belum menemukan katalis yang cukup kuat untuk memicu pembalikan tren secara signifikan.
Investor asing terpantau masih konsisten mencatatkan aksi jual bersih atau net sell hingga akhir Juni 2026.
Kondisi ini terjadi meski Indonesia berhasil mempertahankan status sebagai negara emerging market dalam tinjauan MSCI.
Sentimen positif pada semester kedua diharapkan datang dari potensi penurunan harga energi yang dapat meningkatkan margin emiten sektor konsumer.
Selain itu, disiplin harga di sektor telekomunikasi dan pertumbuhan laba perbankan yang tetap solid menjadi faktor pendukung utama.
Namun, pasar masih harus mewaspadai ketidakpastian arus dana asing, suku bunga tinggi, serta potensi pelemahan daya beli masyarakat.
Evaluasi lanjutan dari MSCI yang dijadwalkan pada November 2026 juga menjadi faktor yang terus dipantau oleh pelaku pasar.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, turut mengamini bahwa prospek semester kedua lebih kondusif dibandingkan semester sebelumnya.
Ia menekankan bahwa pergerakan pasar ke depan akan bersifat lebih selektif dengan fokus pada emiten berfundamental kuat.
“Secara keseluruhan, saya memperkirakan semester II-2026 akan lebih kondusif dibanding semester pertama, namun pergerakan pasar diperkirakan tetap bersifat selektif dengan fokus utama pada emiten yang memiliki fundamental kuat, profitabilitas yang stabil, serta prospek pertumbuhan laba yang berkelanjutan,” kata Alrich, Selasa (30/6/2026).
Sejumlah saham yang direkomendasikan karena memiliki fundamental kuat mencakup sektor perbankan seperti BBCA dan BBNI.
Di sektor telekomunikasi, TLKM dinilai layak dikoleksi karena persaingan tarif yang cenderung terjaga.
Sementara untuk sektor konsumer, emiten seperti KLBF, MYOR, dan AMRT diprediksi akan diuntungkan oleh potensi penurunan biaya bahan baku.
Untuk sektor komoditas dan holding, ANTM dan ASII juga masuk dalam radar investor karena valuasi yang sudah dianggap cukup murah.






















