Jakarta – Harga berbagai jenis plastik di pasaran melonjak tajam dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan ini dikeluhkan oleh para pedagang yang mengandalkan plastik sebagai kebutuhan operasional harian.
Pantauan di wilayah Lenteng Agung, Jakarta Selatan, pada Senin (6/4), menunjukkan kenaikan harga terjadi pada beragam produk, mulai dari kantong plastik hingga sedotan.
Mustaroh, seorang penjual es kelapa, mengungkapkan bahwa hampir seluruh jenis plastik yang ia gunakan mengalami kenaikan harga. Ia merinci, harga plastik kantong naik dari Rp15 ribu menjadi Rp23 ribu per pak.
Sementara itu, harga sedotan naik dari Rp8 ribu menjadi Rp10 ribu. Lonjakan paling signifikan terjadi pada plastik kemasan merek tomat yang melonjak dari Rp36 ribu menjadi Rp60 ribu per pak.
Kenaikan harga ini dipicu oleh tekanan pada pasokan nafta, bahan baku utama pembuatan plastik. Gangguan pasokan terjadi akibat konflik di Timur Tengah yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz, jalur utama perdagangan minyak global.
Nafta sendiri merupakan cairan hidrokarbon menengah yang diolah dari minyak mentah. Berdasarkan data, sekitar 60 persen kebutuhan nafta Indonesia masih bergantung pada impor dari kawasan Timur Tengah.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengakui bahwa ketergantungan impor tersebut membuat Indonesia rentan terhadap gangguan produksi maupun distribusi di kawasan tersebut.
“Kita terdampak dari bahan baku yang harus kita impor dari Timur Tengah,” ujar Budi dalam konferensi pers di Kantor Staf Presiden, Jakarta Pusat, Rabu (1/4).
Untuk mengatasi persoalan ini, pemerintah kini tengah mencari alternatif pemasok dari negara lain, seperti Afrika, India, dan Amerika. Budi mengakui bahwa proses peralihan sumber pasokan ini membutuhkan waktu.
Langkah serupa juga dilakukan oleh Kementerian Perindustrian. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan pihaknya bersama pelaku industri terus berupaya mencari sumber alternatif pasokan nafta di luar Timur Tengah guna menjaga ketersediaan bahan baku dan menstabilkan harga di pasar domestik.Jakarta – Harga berbagai jenis plastik di pasaran melonjak tajam dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan ini dikeluhkan oleh para pedagang yang mengandalkan plastik sebagai kemasan utama dalam kegiatan usaha mereka.
Pantauan di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, pada Senin (6/4), menunjukkan kenaikan harga terjadi pada hampir seluruh jenis plastik, mulai dari kantong hingga sedotan.
Mustaroh, seorang penjual es kelapa di wilayah tersebut, mengungkapkan bahwa ia harus mengeluarkan modal lebih besar karena harga plastik yang terus merangkak naik.
Ia merinci, harga plastik kantong naik dari Rp15 ribu menjadi Rp23 ribu. Sementara itu, harga sedotan naik dari Rp8 ribu menjadi Rp10 ribu per pak. Lonjakan paling signifikan terjadi pada plastik kemasan merek tomat yang naik dari Rp36 ribu menjadi Rp60 ribu per pak.
Kenaikan harga plastik ini dipicu oleh tekanan pada bahan baku utamanya, yakni nafta. Pasokan nafta terganggu akibat konflik di Timur Tengah yang berujung pada penutupan Selat Hormuz, jalur utama perdagangan minyak global.
Berdasarkan data Chandra Asri, nafta merupakan cairan hidrokarbon menengah yang diolah dari minyak mentah sebagai bahan baku biji plastik.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan bahwa Indonesia masih sangat bergantung pada impor nafta dari Timur Tengah, dengan porsi mencapai 60 persen.
“Jadi kita terdampak dari bahan baku yang harus kita impor dari Timur Tengah,” ujar Budi dalam konferensi pers di Kantor Staf Presiden, Jakarta Pusat, Rabu (1/4).
Menurut Budi, ketergantungan impor tersebut membuat Indonesia rentan terhadap gangguan produksi maupun distribusi di kawasan Timur Tengah. Kondisi inilah yang kemudian memicu kenaikan harga plastik di dalam negeri.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah kini tengah berupaya mencari alternatif pasokan bahan baku dari negara lain guna menstabilkan harga di pasar domestik.






















