Jakarta – PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) resmi menyerahkan aset lahan seluas 31,3 hektar kepada Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
Langkah ini dilakukan perusahaan sebagai bentuk Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk mendukung program strategis nasional, yakni Program 3 Juta Rumah.
Aset tanah yang dihibahkan tersebut memiliki nilai valuasi mencapai Rp 291 miliar.
Lahan tersebut nantinya akan dikelola pemerintah untuk pembangunan rumah susun subsidi tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Komitmen hibah lahan tersebut telah dituangkan melalui penandatanganan resmi pada Senin, 29 Juni 2026.
Manajemen menargetkan seluruh proses administrasi dan serah terima lahan dapat diselesaikan dalam waktu dua bulan ke depan.
Presiden Direktur LPCK, Agus Arismunandar, menjelaskan bahwa hibah ini akan berdampak langsung pada penurunan aset dan ekuitas perusahaan sebesar nilai tanah tersebut.
Agus menegaskan bahwa aksi korporasi ini tidak dikategorikan sebagai transaksi material, transaksi afiliasi, maupun transaksi yang mengandung benturan kepentingan.
“Manajemen tidak mengetahui adanya informasi atau kejadian material lainnya yang dapat memengaruhi kelangsungan usaha maupun pergerakan saham perseroan,” ujar Agus dalam keterbukaan informasi pada 26 Juni 2026.
Langkah ini diambil di tengah kondisi kinerja keuangan emiten Grup Lippo yang masih menunjukkan tren penurunan pada awal tahun 2026.
Induk usaha, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), mencatatkan penurunan pendapatan dari Rp 2,06 triliun pada kuartal I 2025 menjadi Rp 1,8 triliun pada kuartal I 2026.
Laba bersih LPKR juga terpantau merosot dari Rp 169,46 miliar menjadi Rp 107,10 miliar dalam periode yang sama.
Kinerja LPCK sebagai pengembang properti pun mengalami tekanan serupa, dengan pendapatan yang terkoreksi menjadi Rp 760,17 miliar dari sebelumnya Rp 1,09 triliun.
Laba bersih LPCK tercatat turun dari Rp 141,79 miliar menjadi Rp 79,13 miliar per Maret 2026.
Di sisi lain, sektor retail yang dijalankan PT MDS Retailing Tbk (LPPF) menunjukkan performa yang sedikit lebih stabil.
Pendapatan LPPF per Maret 2026 naik tipis menjadi Rp 2,48 triliun, dengan laba bersih mencapai Rp 692,09 miliar.
Namun, secara keseluruhan, harga saham emiten Grup Lippo di pasar modal masih mengalami koreksi signifikan sejak awal tahun.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, menilai bahwa tantangan Grup Lippo saat ini mencakup beban utang historis dan proses restrukturisasi yang belum sepenuhnya tuntas.
“Lippo Group menghadapi kombinasi faktor seperti tingginya leverage serta persepsi negatif investor yang masih membayangi,” kata Arinda, Selasa, 30 Juni 2026.
Senada dengan hal tersebut, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, Adrian Djie, menyebut dampak hibah lahan ini bagi perusahaan bersifat terbatas pada neraca keuangan.
Adrian menambahkan bahwa faktor eksternal seperti kondisi makro ekonomi dan kenaikan suku bunga Bank Indonesia ke level 5,75 persen menjadi pemberat bagi sektor properti.
Meskipun demikian, prospek jangka panjang emiten Grup Lippo dinilai masih memiliki peluang pemulihan moderat.
Hal ini didorong oleh insentif sektor properti dan perbaikan konsumsi domestik di tengah tantangan ketidakpastian global.
























