Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat memberikan tekanan signifikan terhadap profitabilitas emiten di sektor kesehatan. Meski permintaan layanan tetap stabil, lonjakan biaya produksi akibat ketergantungan impor menjadi tantangan utama bagi industri ini.
Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menjelaskan bahwa sektor kesehatan memiliki karakteristik defensif karena kebutuhan masyarakat yang tetap tinggi. Namun, pelemahan rupiah memicu kenaikan beban biaya yang dapat menggerus margin laba perusahaan secara signifikan.
Emiten farmasi menjadi pihak yang paling terdampak oleh fenomena ini. Hal tersebut disebabkan oleh tingginya ketergantungan industri farmasi terhadap bahan baku aktif impor yang mencapai 80 persen hingga 90 persen. Akibatnya, harga pokok penjualan melonjak, sementara perusahaan tidak dapat serta-merta menaikkan harga jual, terutama untuk obat generik yang diatur oleh pemerintah.
Tekanan serupa juga dialami oleh emiten rumah sakit. Biaya pengadaan alat kesehatan, obat-obatan, serta suku cadang peralatan medis berbasis impor mengalami kenaikan harga. Hendra menyoroti bahwa rumah sakit yang melayani pasien BPJS memiliki keterbatasan ruang untuk menyesuaikan tarif, sehingga profitabilitasnya lebih rentan tertekan.
Sebaliknya, rumah sakit yang membidik segmen pasar menengah atas dinilai lebih tangguh karena memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan tarif layanan. Untuk memitigasi dampak pelemahan kurs, perusahaan kesehatan kini mengandalkan strategi efisiensi operasional, optimalisasi rantai pasok, serta penerapan natural hedging.
Di tengah kondisi ini, investor disarankan untuk lebih selektif dalam memilih saham di sektor kesehatan. Perusahaan yang memiliki kemampuan penetapan harga (pricing power) yang kuat dan efisiensi operasional tinggi diprediksi lebih mampu bertahan.
Hendra menilai saham emiten rumah sakit seperti SILO dan HEAL tetap menarik karena didukung oleh segmen pasar premium serta efisiensi yang solid. Sementara itu, SAME dinilai memiliki potensi perbaikan kinerja (turnaround), dan PRDA tetap menjadi pilihan menarik berkat model bisnis laboratorium yang cenderung memiliki margin stabil.




















