Jakarta – Pengelolaan fiskal Indonesia sepanjang lima bulan pertama tahun 2026 menunjukkan tren positif dengan mencatatkan surplus keseimbangan primer sebesar Rp58,6 triliun. Kondisi ini menjadi sinyal kuat bahwa anggaran negara kini berada dalam posisi yang lebih sehat dan berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan bahwa surplus tersebut menandai perbaikan signifikan dalam struktur anggaran dibandingkan periode sebelumnya. Ia menegaskan bahwa capaian ini mencerminkan pengelolaan fiskal yang semakin prudent dan kredibel.
“Surplus keseimbangan primer sekarang Rp58,6 triliun, sudah positif lagi. Artinya anggaran kita sekarang lebih berkesinambungan dibanding bulan-bulan sebelumnya,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA Edisi Juni 2026, di Jakarta.
Kinerja positif ini didorong oleh pendapatan negara yang mencapai Rp1.185 triliun hingga akhir Mei 2026, atau tumbuh 19,1 persen secara tahunan. Lonjakan penerimaan perpajakan sebesar 22,1 persen menjadi kontributor utama dalam memperkuat kas negara.
“Yang paling menarik adalah pendapatan pajak naik 22,1 persen. Jadi ada perbaikan yang signifikan di pajak dibandingkan dengan kondisi tahun lalu,” tambahnya.
Di sisi lain, pemerintah tetap mengoptimalkan belanja negara yang terealisasi sebesar Rp1.365,4 triliun. Anggaran tersebut difokuskan untuk menjaga daya beli masyarakat, memperkuat ketahanan pangan, serta mempercepat roda ekonomi nasional. Strategi ini terbukti efektif menjaga defisit APBN tetap terkendali di angka 0,70 persen terhadap PDB.
Ketahanan ekonomi domestik juga terlihat dari kembalinya PMI Manufaktur ke zona ekspansi pada Mei 2026. Selain itu, konsumsi masyarakat yang kuat, surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut, serta inflasi yang terjaga di level 3,08 persen menjadi bukti stabilitas ekonomi nasional.
“Ini menunjukkan domestic demand yang kuat dan juga menggambarkan daya beli masyarakat yang masih kuat,” jelas Purbaya.
Ke depan, pemerintah berkomitmen untuk terus menjadikan APBN sebagai instrumen shock absorber yang adaptif. Purbaya memastikan bahwa pemerintah akan terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan fiskal yang terukur guna mendukung pembangunan berkelanjutan.























