Wall Street Beragam, Saham Alphabet Seret Pelemahan S&P 500 dan Nasdaq

persen

New York – Indeks utama bursa Wall Street mencatatkan pergerakan bervariasi pada penutupan perdagangan awal pekan ini karena tekanan jual yang kuat pada saham-saham teknologi megacap.

Indeks Nasdaq Composite memimpin pelemahan dengan koreksi signifikan, sementara Dow Jones Industrial Average justru berhasil mencatatkan penguatan di tengah ketidakpastian pasar global.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 148,01 poin atau 0,29% ke level 51.712,71. Sebaliknya, indeks S&P 500 melemah 27,79 poin atau 0,37% menjadi 7.472,79, dan Nasdaq Composite terperosok 351,33 poin atau 1,32% ke posisi 26.166,60. Penurunan pada sektor Layanan Komunikasi sebesar 3,8% menjadi salah satu beban utama bagi pergerakan indeks secara keseluruhan.

Saham perusahaan teknologi besar menjadi sorotan utama setelah mencatatkan kinerja negatif.

Alphabet mengalami penurunan sebesar 5%, sementara saham Meta, Amazon, dan Microsoft mencatatkan pelemahan berkisar antara 2,3% hingga 4,7%.

Selain itu, saham SpaceX mencatatkan penurunan harian paling tajam sebesar 16,4%, yang memberikan tekanan tambahan terhadap Nasdaq.

Analis mencatat optimisme investor terhadap kecerdasan buatan atau AI mulai diuji dengan pertanyaan kritis terkait besarnya biaya ekspansi infrastruktur yang dikeluarkan oleh perusahaan-perusahaan besar.

Meskipun begitu, fundamental di sektor pembangunan pusat data AI dinilai masih cukup kuat untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.

Direktur Investasi Senior US Bank, Bill Northey, menyatakan bahwa kelompok saham teknologi cenderung bergerak searah akibat sentimen pasar yang sangat sensitif.

Di sisi lain, pergerakan bursa juga dipengaruhi oleh perkembangan dinamika geopolitik, khususnya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Laporan mengenai kemajuan substansial dalam putaran awal pembicaraan di Swiss telah memicu penurunan harga minyak dunia. Situasi ini memberikan sentimen positif bagi konsumen dan operasional bisnis, meskipun ketegangan regional di Lebanon dan Selat Hormuz masih menyisakan risiko tersendiri bagi stabilitas pasar energi.

Pasar juga tengah mengantisipasi langkah kebijakan moneter Federal Reserve di bawah kepemimpinan baru Kevin Warsh.

Fokus investor kini tertuju pada rilis data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) yang dijadwalkan pada hari Kamis mendatang.

Data tersebut akan menjadi acuan utama bagi pasar untuk memprediksi arah kebijakan suku bunga.

Saat ini, pelaku pasar memperkirakan adanya potensi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan September, seiring dengan upaya bank sentral untuk menjaga stabilitas harga dan menekan laju inflasi.

Volume perdagangan di bursa Amerika Serikat tercatat cukup aktif dengan total 22,97 miliar saham berpindah tangan, melampaui rata-rata volume harian selama 20 hari terakhir yang berada di angka 22,12 miliar saham.

Kinerja saham Micron Technology pada hari Rabu nanti diperkirakan akan menjadi ujian selanjutnya bagi reli pasar, mengingat sektor produsen chip memori ini sempat mencatatkan kenaikan fantastis sebesar 300% sepanjang tahun berjalan.

Rekomendasi