IHSG Menguat 2,7 Persen Saat Tekanan Arus Modal Asing Mereda

persen

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan sinyal pemulihan yang signifikan setelah sempat tertekan oleh arus keluar dana asing atau foreign outflow. Pada perdagangan Rabu (10/6/2026), IHSG mencatatkan penguatan sebesar 2,71 persen atau naik 155,72 poin, sehingga berhasil ditutup di level 5.902,37. Tren positif ini memberikan optimisme baru bagi pelaku pasar di tengah ketidakpastian ekonomi domestik.

Head of Investment Portfolio Strategy Bank Sinarmas, Ismail Muharam, menyatakan bahwa fase terburuk bagi pasar saham Indonesia kemungkinan besar telah terlewati. Menurutnya, intensitas arus keluar dana asing yang sempat melanda pasar domestik telah berkurang secara drastis. Sebagai catatan, pada 29 Mei 2026, pasar sempat mencatatkan outflow masif mencapai Rp 8,52 triliun dalam satu hari. Namun, kondisi saat ini menunjukkan dinamika yang jauh lebih stabil dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Ismail menjelaskan bahwa koreksi yang terjadi pada IHSG dalam sepekan terakhir lebih didorong oleh aksi jual atau sell-off dari investor domestik. Fenomena ini mencerminkan sikap kehati-hatian serta krisis kepercayaan jangka pendek di kalangan pelaku pasar lokal. Selain itu, pasar saat ini masih menanti kejelasan mengenai implementasi berbagai kebijakan pemerintah, termasuk perkembangan terkait PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) yang menjadi perhatian utama investor.

Sentimen positif juga datang dari langkah Bank Indonesia (BI) yang secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen pada Selasa (9/6/2026). Keputusan tersebut direspons pasar dengan penguatan nilai tukar rupiah, yang dianggap sebagai indikator berkurangnya tekanan pada pasar keuangan domestik. Stabilitas rupiah dinilai krusial untuk menjaga kepercayaan investor asing agar kembali melirik instrumen investasi di Indonesia.

Dari sisi valuasi, pasar saham Indonesia saat ini dinilai sudah berada pada level yang sangat atraktif. Price to earnings ratio (PER) IHSG kini berada di kisaran 9 hingga 10 kali, yang menurut Ismail termasuk dalam kategori murah. Meskipun IHSG diprediksi tidak akan langsung melonjak ke level tertinggi sepanjang masa dalam waktu singkat, pemulihan diperkirakan akan berlangsung secara bertahap seiring dengan perbaikan sentimen fiskal dan stabilitas mata uang.

Untuk menghadapi kondisi pasar saat ini, investor disarankan untuk mulai menerapkan strategi dollar cost averaging (DCA) guna mengakumulasi saham secara bertahap. Ismail menekankan pentingnya selektivitas dengan memprioritaskan saham berkapitalisasi besar atau big caps, khususnya di sektor perbankan. Saham perbankan dinilai memiliki fundamental yang kokoh serta menawarkan imbal hasil dividen yang menarik, yakni di kisaran 7 hingga 8 persen. Strategi ini dianggap sebagai langkah paling aman dan menguntungkan bagi investor yang ingin memanfaatkan valuasi saham yang telah terkoreksi dalam untuk jangka panjang.

Rekomendasi