Jakarta – Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih akan bergerak fluktuatif sepanjang semester II 2026 akibat masih tingginya tingkat ketidakpastian ekonomi global. Berbagai variabel eksternal dan domestik, mulai dari kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed, hingga fluktuasi harga minyak dunia dan dinamika arus modal asing, menjadi penentu utama arah pergerakan mata uang Garuda dalam enam bulan ke depan.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memproyeksikan dalam skenario dasar, rupiah akan bergerak pada kisaran Rp 17.600 hingga Rp 18.400 per dolar AS. Menurutnya, potensi penguatan ke level Rp 17.000-an tetap terbuka lebar apabila sentimen positif muncul secara bersamaan. Faktor pendukung tersebut mencakup kepastian arah kebijakan suku bunga AS, penurunan harga minyak dunia, serta kembali masuknya arus modal asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar saham domestik.
Selain itu, stabilitas cadangan devisa dan disiplin fiskal pemerintah yang konsisten akan menjadi jangkar bagi penguatan nilai tukar. Sebaliknya, tekanan depresiasi rupiah dapat meningkat jika harga minyak kembali melambung, arus modal asing keluar secara masif, atau muncul kekhawatiran terkait kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Jika risiko-risiko tersebut memburuk, Josua memperingatkan bahwa nilai tukar rupiah berisiko melemah hingga di atas level Rp 18.500 per dolar AS.
Menyikapi volatilitas tersebut, investor disarankan untuk menerapkan strategi diversifikasi portofolio guna memitigasi risiko. Menempatkan seluruh dana pada satu jenis aset dinilai kurang tepat di tengah kondisi pasar yang dinamis. Dolar AS masih dipandang relevan sebagai instrumen lindung nilai bagi pihak yang memiliki kewajiban dalam mata uang asing, sementara emas tetap menjadi pilihan untuk menjaga daya beli di tengah inflasi. Namun, akumulasi emas disarankan dilakukan secara bertahap mengingat harganya saat ini yang berada di level tinggi.
Bagi investor dengan profil risiko moderat yang membidik cakrawala investasi enam hingga 12 bulan, pengalokasian aset dapat dilakukan dengan komposisi 40 persen pada instrumen pasar uang rupiah, 20 persen pada dolar AS atau instrumen berbasis dolar, 15 persen pada emas, 15 persen pada SBN tenor pendek hingga menengah, dan 10 persen pada kas atau saham defensif. Sementara untuk investor konservatif, porsi instrumen pasar uang dan kas disarankan ditingkatkan hingga 60 persen.
Josua menekankan pentingnya bagi para pelaku pasar untuk tetap memantau indikator makroekonomi secara ketat. Dari sisi global, investor perlu mencermati indeks dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Sementara dari dalam negeri, aliran dana asing di pasar SBN dan saham, posisi cadangan devisa, neraca perdagangan, serta kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) menjadi variabel krusial yang akan mempengaruhi persepsi pasar terhadap prospek rupiah ke depan. Strategi menjaga likuiditas dinilai lebih bijak dibandingkan masuk secara agresif ke aset berisiko dalam periode ketidakpastian tinggi saat ini.























