Bank Dunia Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melambat pada 2026

persen

harga-minyak-naik,-bank-dunia-ramal-ekonomi-ri-2026-cuma-5-persen
Harga Minyak Naik, Bank Dunia Ramal Ekonomi RI 2026 Cuma 5 Persen

Jakarta – Ekonomi Indonesia diprediksi akan menghadapi tantangan berat pada 2026 dengan proyeksi pertumbuhan yang melambat di angka 5 persen. Kondisi ini dipicu oleh ketidakpastian global, mulai dari tingginya harga minyak dunia hingga melemahnya permintaan dari mitra dagang utama.

Bank Dunia dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026 menyoroti bahwa tekanan eksternal, seperti kenaikan imbal hasil obligasi global dan sentimen risiko, akan menekan kinerja ekspor serta investasi asing.

Meski demikian, konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah diproyeksikan tetap menjadi penopang utama dalam jangka pendek. Konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh 5 persen, sementara belanja pemerintah diprediksi melonjak hingga 8,7 persen untuk mendukung program-program prioritas.

Namun, Bank Dunia memberikan catatan kritis terkait ketergantungan pada anggaran negara. “Ketergantungan pada konsumsi pemerintah mengandung risiko mengingat ruang fiskal yang terbatas dan meningkatnya biaya subsidi di bawah aturan fiskal yang berlaku,” tulis laporan tersebut.

Di sisi lain, investasi dan ekspor diprediksi mengalami perlambatan masing-masing menjadi 4,9 persen dan 5 persen. Skenario ini disusun dengan asumsi bahwa konflik di Timur Tengah terus berlanjut sepanjang 2026, yang berdampak pada harga minyak Brent di kisaran 94 dolar AS per barel.

Bank Dunia menekankan bahwa stabilitas ekonomi domestik sangat bergantung pada kredibilitas kebijakan, pengendalian inflasi, serta keberlanjutan proyek investasi strategis seperti Danantara.

Harapan untuk pemulihan ekonomi muncul pada 2027 dan 2028, di mana pertumbuhan diproyeksikan kembali meningkat ke level 5,2 persen. Pemulihan ini diharapkan didorong oleh reformasi domestik, percepatan investasi, serta meredanya tekanan pasar komoditas global.

“Kekuatan pemulihan akan sangat bergantung pada kecepatan implementasi reformasi dan kemampuan menarik investasi swasta,” tegas Bank Dunia.

Secara global, Bank Dunia juga memproyeksikan perlambatan ekonomi dunia menjadi 2,5 persen pada 2026. Angka ini menjadi yang terendah sejak pandemi Covid-19, yang dipengaruhi oleh gangguan pasokan energi dan ketatnya kebijakan moneter di berbagai negara.

Rekomendasi