Bursa Global Melemah Saat Perundingan AS-Iran Tertunda dan Yen Tertekan

persen

New York – Bursa saham global mencatatkan pelemahan pada perdagangan Jumat (19/6/2026) menyusul penundaan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Sentimen negatif ini menekan indeks MSCI All-World yang terkoreksi sebesar 0,15 persen setelah Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance membatalkan agenda pertemuannya dengan negosiator Iran di Swiss.

Di pasar Eropa, indeks saham utama juga mengalami tekanan dengan penurunan sebesar 0,12 persen, memangkas perolehan yang sempat dicapai pada awal sesi perdagangan. Sementara itu, kontrak berjangka indeks saham Amerika Serikat menunjukkan pelemahan di kisaran 0,1 hingga 0,2 persen, meskipun pasar fisik di AS sedang tidak beroperasi karena libur nasional Juneteenth.

Dinamika geopolitik Timur Tengah menjadi katalis utama pergerakan pasar energi. Harga minyak mentah Brent terpantau bergerak di bawah level 80 dolar AS per barel setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hezbollah di Lebanon. Kesepakatan ini turut meredakan ketegangan yang sebelumnya mengancam implementasi perjanjian sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Seiring dengan pencabutan blokade oleh AS, kapal-kapal tanker kini mulai kembali melintasi Selat Hormuz, yang memberikan sentimen positif bagi stabilitas pasokan energi global.

Namun, analis dari RBC Capital Markets menyatakan skeptisisme terkait keberlanjutan stabilitas tersebut. Dalam catatan risetnya, RBC memperkirakan bahwa meskipun jalur perdagangan mulai dibuka kembali, pemulihan lalu lintas pelayaran tidak akan terjadi secara instan. Kondisi ini diprediksi akan menyerupai situasi di Laut Merah, di mana volume pelayaran masih tertahan jauh di bawah level sebelum krisis.

Di sisi lain, pasar valuta asing menunjukkan penguatan dolar AS yang bertahan di dekat level tertinggi dalam 13 bulan terakhir. Kebijakan hawkish yang ditegaskan oleh Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, terkait komitmen pengendalian inflasi memicu ekspektasi pasar akan adanya setidaknya satu kenaikan suku bunga lanjutan sebelum akhir tahun. Kondisi ini tercermin pada pasar obligasi AS, di mana imbal hasil obligasi tenor dua tahun naik hampir 10 basis poin dibandingkan pekan sebelumnya.

Tekanan terhadap mata uang global juga dirasakan oleh yen Jepang yang kini berada di kisaran 161,3 per dolar AS. Posisi ini merupakan level terlemah mata uang tersebut sejak tahun 1986 dan berada jauh di atas batas psikologis 160 per dolar AS. Situasi ini meningkatkan spekulasi pasar mengenai potensi intervensi langsung dari pemerintah Jepang untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Otoritas Jepang telah mengeluarkan serangkaian peringatan kepada pelaku pasar menyusul pelemahan yen yang terjadi secara konsisten dalam lima dari enam pekan terakhir.

Sementara itu, mata uang poundsterling Inggris mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,1 persen ke level 1,321 dolar AS. Pergerakan ini terjadi setelah sebelumnya sempat tertekan akibat keputusan Bank of England yang memilih untuk mempertahankan suku bunga acuannya. Investor juga tengah mencermati dinamika politik domestik Inggris pasca kemenangan Andy Burnham dalam pemilihan parlemen, yang dinilai dapat memengaruhi peta kekuatan kepemimpinan Perdana Menteri Keir Starmer ke depannya. Para pelaku pasar global saat ini terus memantau perkembangan kebijakan moneter dari bank sentral utama serta stabilitas geopolitik sebagai penentu arah pasar di masa depan.

Rekomendasi