Allo Bank Tahan Kenaikan Bunga Kredit Meski BI Rate Naik

Fokus utama bank digital ini kini bergeser pada penguatan ekosistem mitra bisnis guna menjaga kualitas aset dan menekan risiko kredit macet.

persen

rupiah-tertekan-ke-rp17.596-per-dollar-as-jumat-sore
Rupiah Tertekan ke Rp17.596 per Dollar AS Jumat Sore

Jakarta – PT Allo Bank Indonesia Tbk memilih strategi selektif dalam menyalurkan kredit di tengah tren kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) dan bunga penjaminan LPS.

Fokus utama bank digital ini kini bergeser pada penguatan ekosistem mitra bisnis guna menjaga kualitas aset dan menekan risiko kredit macet.

Komisaris Utama Independen Allo Bank, Aviliani, menegaskan bahwa perusahaan tidak akan serta-merta menaikkan bunga kredit kepada nasabah meski BI Rate telah menyentuh level 5,75 persen.

Menurutnya, kebijakan bunga kredit lebih dipengaruhi oleh efisiensi biaya dana (cost of fund) internal perusahaan.

“Dengan BI Rate, tidak otomatis kita menaikkan bunga kredit, tetapi tetap melihat cost yang kita keluarkan. Jadi kalau dilihat sebenarnya cost kita sangat efektif, cukup rendah,” ujar Aviliani usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Kamis (25/6).

Strategi ekspansi Allo Bank pada 2026 difokuskan pada pembiayaan melalui produk paylater yang terintegrasi dengan mitra bisnis.

Langkah ini diambil untuk memitigasi risiko dibandingkan penyaluran pinjaman langsung ke individu yang dinilai memiliki potensi kredit bermasalah (NPL) lebih tinggi.

“Kalau kita hanya melakukan pinjaman kepada perorangan tanpa ada mitra bisnis, itu akan sulit. Biasanya tingkat NPL-nya juga cukup besar,” jelasnya.

Melalui kolaborasi dengan mitra, bank dapat memantau pola transaksi dan perilaku belanja calon nasabah secara lebih akurat.

Hal ini memungkinkan profil risiko nasabah terukur dengan lebih baik sebelum fasilitas pembiayaan diberikan.

Di sisi lain, terkait penyesuaian bunga simpanan sebagai respons atas kenaikan bunga penjaminan LPS menjadi 3,75 persen, Aviliani menyebut setiap bank memiliki kebijakan likuiditas yang berbeda.

Allo Bank akan tetap menjaga keseimbangan antara penghimpunan dana pihak ketiga dan penyaluran kredit sesuai dengan batasan yang ditetapkan regulator.

Sebagai informasi, kinerja keuangan Allo Bank menunjukkan tren positif dengan perolehan laba bersih sebesar Rp574,26 miliar sepanjang 2025, atau tumbuh 23 persen secara tahunan.

Dalam RUPST tersebut, pemegang saham juga menyepakati pembagian dividen tunai sebesar Rp286,97 miliar atau 50 persen dari total laba bersih tahun buku 2025.

Rekomendasi