United Tractors Perkuat Ekspansi Bisnis di Sektor Mineral Non-Batubara

persen

Jakarta – PT United Tractors Tbk (UNTR) kian agresif memperluas portofolio bisnisnya di sektor pertambangan mineral non-batubara. Emiten Grup Astra ini melakukan serangkaian aksi korporasi strategis untuk memperkuat posisi dalam rantai pasok mineral masa depan, termasuk nikel dan emas.

Melalui entitas asosiasinya, Nickel Industries Limited (NIC), perusahaan resmi mengakuisisi saham minoritas di dua fasilitas pengolahan High Pressure Acid Leach (HPAL) yang berlokasi di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Saham Australia tertanggal 24 Juni 2026, NIC menyepakati akuisisi 17,5% saham di PT Teluk Metal Industry (TMI) senilai US$ 169 juta. Pendanaan transaksi ini bersumber dari kas internal serta opsi pendanaan utang melalui Shanghai Decent.

Selain itu, NIC juga melakukan akuisisi 36% saham di PT Chengsheng New Energy dengan valuasi US$ 241,6 juta. Transaksi tersebut dilakukan melalui skema monetisasi atas 18% saham di dua perusahaan tambang Proyek Sampala tanpa melibatkan arus kas tunai. Proyeksi produksi dari kedua smelter ini cukup signifikan; TMI dijadwalkan berkontribusi sebesar 6.775 ton nikel Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) per tahun setelah beroperasi penuh pada September 2027. Sementara itu, Chengsheng New Energy diprediksi menyumbang 10.208 ton nikel MHP per tahun dengan target operasional mulai pertengahan 2027.

Di sisi lain, UNTR juga memperkuat modal kerja anak usahanya, PT Agincourt Resources (PTAR), melalui pemberian fasilitas pinjaman bergulir senilai US$ 70 juta oleh PT Danusa Tambang Nusantara (DTN). Corporate Secretary United Tractors, Ari Setiyawan, menyatakan bahwa langkah ini merupakan strategi optimalisasi likuiditas internal. Menurutnya, memberikan pinjaman kepada perusahaan grup jauh lebih menguntungkan dibandingkan hanya menyimpan kas dalam bentuk deposito bank. Pinjaman tersebut dikenakan bunga Term SOFR ditambah 1,15% per tahun dengan tenor hingga 16 Juni 2029.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai aksi ini sebagai langkah krusial bagi UNTR dalam mendiversifikasi bisnis di tengah tantangan transisi energi global. Keterlibatan pada smelter HPAL memberikan akses strategis bagi UNTR dalam ekosistem baterai kendaraan listrik global, sementara dukungan modal kepada Agincourt Resources memastikan keberlanjutan produksi emas di Tambang Martabe.

Secara fundamental, posisi keuangan UNTR dinilai sangat solid dengan tingkat leverage yang terjaga, sehingga ekspansi ini tidak akan mengganggu stabilitas keuangan perusahaan dalam jangka pendek. Diversifikasi ke mineral hijau juga diprediksi meningkatkan daya tarik saham UNTR bagi investor yang mengutamakan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Meskipun terdapat risiko fluktuasi nilai tukar terkait pinjaman dalam mata uang dolar AS, strategi lindung nilai atau hedging dipandang mampu memitigasi dampak tersebut.

Saat ini, analis pasar menunjukkan pandangan yang beragam terhadap saham UNTR. Kiwoom Sekuritas dalam risetnya mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 29.100 per saham, didorong oleh valuasi yang menarik. Namun, investor tetap disarankan untuk memantau volatilitas harga komoditas emas, tren penjualan alat berat, serta perkembangan regulasi terkait Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang menjadi faktor penentu kinerja perseroan ke depan.

Rekomendasi