Jakarta – PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mencatatkan lonjakan kinerja keuangan yang signifikan pada kuartal pertama tahun 2026.
Perusahaan berhasil membukukan pendapatan sebesar US$ 455,1 juta sepanjang periode tiga bulan pertama tersebut.
Angka ini merepresentasikan pertumbuhan sebesar 24 persen secara tahunan dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang berada di angka US$ 366,1 juta.
Peningkatan pendapatan ini didorong oleh kenaikan volume penjualan bijih nikel serta harga jual yang lebih kompetitif di pasar global.
Selain itu, efisiensi operasional turut memberikan kontribusi positif terhadap penguatan margin pada segmen Nickel Pig Iron (NPI).
Laba bersih konsolidasian perusahaan tercatat melonjak tajam menjadi US$ 82 juta pada kuartal I-2026.
Sebagai perbandingan, pada kuartal I-2025, laba bersih konsolidasian perseroan hanya tercatat sebesar US$ 6 juta.
Sementara itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau NPATMI mencapai US$ 29,9 juta.
Capaian tersebut menandai pembalikan posisi setelah pada periode yang sama tahun sebelumnya perusahaan sempat mencatatkan rugi bersih sebesar US$ 3,5 juta.
Presiden Direktur Merdeka Battery Materials, Teddy Nuryanto Oetomo, menyatakan bahwa awal tahun 2026 menjadi momentum kuat bagi pertumbuhan perseroan.
Kinerja positif ini merupakan hasil dari peningkatan produksi limonit dan saprolit yang berjalan beriringan dengan permintaan pasar.
“Fokus kami tetap pada efisiensi operasional, alokasi modal yang disiplin, serta kelanjutan pengembangan proyek-proyek hilir sebagai pendorong pertumbuhan Perseroan,” ujar Teddy dalam keterangan resmi, Senin (29/6/2026).
Aktivitas penambangan nikel menjadi tulang punggung utama dalam menopang operasional perusahaan sepanjang kuartal ini.
Volume bijih yang ditambang tercatat meningkat 143 persen secara tahunan menjadi 7,7 juta wet metric tonnes (wmt).
Penjualan limonit melonjak 126 persen menjadi 4,8 juta wmt yang difungsikan untuk mendukung operasi High Pressure Acid Leaching (HPAL).
Di sisi lain, pengiriman saprolit naik 42 persen menjadi 1,9 juta wmt untuk memenuhi kebutuhan pasokan smelter internal.
Pada segmen pengolahan hilir, fasilitas RKEF perusahaan berhasil memproses 2,2 juta wmt bijih saprolit.
Proses tersebut menghasilkan 19.990 ton nikel dalam bentuk NPI dan Low-Grade Nickel Matte (LGNM).
Margin tunai untuk NPI tercatat sebesar US$ 3.982 per ton nikel yang didukung oleh harga jual lebih tinggi serta kemandirian pasokan bahan baku.
Perusahaan juga mencatat progres signifikan pada proyek hilir PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC).
Pembangunan pabrik HPAL dan Feed Preparation Plant masing-masing telah mencapai tahap penyelesaian 95 persen dan 94 persen.
Proyek ini diproyeksikan akan meningkatkan produksi secara bertahap sepanjang semester kedua tahun 2026.
Dari sisi likuiditas, MBMA mempertahankan posisi kas sebesar US$ 350 juta per 31 Maret 2026.
Rasio utang bersih terhadap EBITDA berada di level 2,1 kali, jauh di bawah batas maksimal 5 kali yang dipersyaratkan.
Manajemen menargetkan pengiriman bijih saprolit hingga 10 juta wmt dan produksi MHP hingga 30.000 ton untuk tahun 2026.






















