Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan di zona negatif pada penutupan perdagangan sesi pertama, Senin (29/6).
Indeks acuan domestik ini merosot 57,185 poin atau 0,97 persen ke level 5.838,949.
Penurunan serupa juga dialami oleh indeks LQ45 yang terkoreksi 6,862 poin atau 1,18 persen ke posisi 576,859.
Data perdagangan mencatat sebanyak 378 saham mengalami pelemahan.
Sementara itu, terdapat 244 saham yang berhasil mencatatkan kenaikan harga.
Sebanyak 183 saham lainnya terpantau bergerak stagnan atau tidak mengalami perubahan nilai.
Aktivitas perdagangan pada sesi pertama melibatkan frekuensi transaksi sebanyak 683.717 kali.
Total volume saham yang diperdagangkan mencapai 7,510 miliar lembar saham.
Nilai transaksi keseluruhan tercatat sebesar Rp 4,026 triliun.
Daftar saham yang masuk dalam jajaran top losers siang ini mencakup sejumlah emiten dengan tekanan jual cukup signifikan.
Saham PT Pelayaran Nasional Bina Buana (BBRM) memimpin penurunan dengan koreksi 14,84 persen ke posisi 109.
Saham PT First Media (KBLV) menyusul dengan pelemahan 10,64 persen ke level 84.
Emiten transportasi PT Blue Bird (BIRD) juga tertekan sebesar 10,39 persen ke harga 1.510.
Selain itu, saham PT Terang Dunia Internusa (UNTD) turun 7,69 persen menjadi 72.
Saham PT Bekasi Asri Pemula (BAPA) melengkapi daftar dengan penurunan 7,56 persen ke level 220.
Kondisi pasar modal domestik ini terjadi di tengah dinamika pasar keuangan global yang beragam.
Berbeda dengan kinerja bursa saham, nilai tukar rupiah justru menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 12.00 WIB, mata uang Garuda menguat 63 poin atau 0,35 persen ke level Rp 17.859 per dolar AS.
Sentimen di bursa Asia terpantau bergerak variatif pada perdagangan siang hari ini.
Indeks Nikkei 225 di Jepang mengalami tekanan jual dengan penurunan sebesar 0,98 persen ke 68.684,296.
Di sisi lain, indeks Hang Seng di Hong Kong justru mencatatkan performa positif dengan kenaikan 2,13 persen ke 23.153,890.
Pasar saham China melalui indeks SSE Composite turut menunjukkan penguatan sebesar 0,17 persen ke 4.034,080.
Sementara itu, indeks Straits Times di Singapura menguat tipis sebesar 0,14 persen ke posisi 5.198,819.
Para analis menilai bahwa volatilitas pasar yang terjadi saat ini dipengaruhi oleh sentimen domestik maupun regional.
Investor cenderung berhati-hati dalam merespons fluktuasi harga saham di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global.
Langkah pelaku pasar untuk melakukan aksi ambil untung atau profit taking dinilai menjadi salah satu pemicu koreksi IHSG siang ini.
Kombinasi antara pergerakan nilai tukar yang stabil dan sentimen bursa regional akan menjadi penentu arah pergerakan pasar di sesi kedua.






















