Menakar Peluang Keuntungan Investasi Reksa Dana Berbasis Dolar AS

persen

Jakarta – Tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang berlangsung sejak akhir 2025 hingga pertengahan Juni 2026 telah memicu pergeseran perilaku investor domestik.

Para pelaku pasar kini cenderung mengalihkan aset mereka ke instrumen investasi berdenominasi mata uang dolar AS sebagai langkah mitigasi risiko.

Data industri menunjukkan bahwa dana kelolaan reksa dana USD mengalami lonjakan signifikan sebesar 388 juta USD secara year to date.

Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 13 persen dibandingkan posisi awal tahun.

PT Sucorinvest Asset Management (Sucor AM) menilai tren ini merupakan respons rasional terhadap ketidakpastian kondisi ekonomi global dan domestik.

Sentimen pasar saat ini masih dipengaruhi oleh sikap wait and see investor terhadap pasar negara berkembang.

Selain itu, arus keluar dana asing dari pasar saham dan obligasi domestik turut memberikan tekanan tambahan bagi nilai tukar rupiah.

Arah kebijakan bank sentral global yang cenderung hawkish juga menjadi faktor utama yang mendorong investor mencari perlindungan aset.

Direktur Investasi Sucor AM, Dimas Yusuf, menegaskan bahwa diversifikasi portofolio sangat krusial di tengah volatilitas pasar yang tinggi.

“Dalam jangka panjang, kami memandang investasi pada instrumen berdenominasi Dolar AS tetap relevan karena dapat membantu investor meningkatkan diversifikasi portofolio dari sisi nilai tukar,” ujar Dimas pada Rabu, 1 Juli 2026.

Menurutnya, ketika mata uang domestik mengalami tekanan, portofolio berbasis dolar AS berperan sebagai penyeimbang risiko yang efektif.

Bagi investor dengan profil risiko konservatif, reksa dana pasar uang USD menjadi pilihan utama karena menawarkan likuiditas tinggi dengan profil risiko yang terukur.

Sementara itu, investor dengan profil risiko agresif dapat mempertimbangkan reksa dana campuran atau reksa dana saham global untuk mengejar potensi imbal hasil yang lebih optimal.

Sucor AM menyatakan komitmennya untuk menerapkan strategi pengelolaan portofolio secara aktif dalam menghadapi dinamika pasar.

Langkah ini mencakup pengaturan durasi investasi, pemilihan aset dasar yang berkualitas, serta pemeliharaan tingkat likuiditas yang memadai.

Strategi tersebut terbukti membuahkan hasil positif bagi sejumlah produk reksa dana USD kelolaan perusahaan.

Per 19 Juni 2026, produk Sucorinvest Global Equity Sharia Fund (SGESU) mencatatkan imbal hasil sebesar 9,37 persen secara year to date.

Pada periode yang sama, produk Sucorinvest Money Market USD (SMMUSD) berhasil memberikan imbal hasil sebesar 1,66 persen.

Produk-produk investasi tersebut kini telah tersedia melalui berbagai mitra Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) terkemuka di Indonesia.

Beberapa mitra tersebut mencakup BMoney, Makmur, Bibit, Invesnow, Sayakaya, Fides, Bareksa, Trimegah Sekuritas, Sucor Sekuritas, dan Trust Sekuritas.

Meskipun performa aset USD menunjukkan tren positif, pihak manajer investasi tetap memberikan imbauan kehati-hatian kepada para investor.

Pelaku pasar diminta untuk senantiasa mencermati arah kebijakan suku bunga, baik di tingkat domestik maupun global.

Selain itu, faktor dinamika geopolitik dan rilis data ekonomi secara berkala harus terus dipantau.

Kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas fiskal juga dinilai menjadi variabel penting yang akan menentukan arah pasar ke depan.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar