Aksi Buyback Belum Mampu Dongkrak Performa Saham Emiten

persen

Jakarta – Deretan emiten besar di Bursa Efek Indonesia tercatat masih kesulitan mendongkrak harga saham mereka meskipun telah menggelontorkan dana jumbo untuk program pembelian kembali saham atau buyback.

Fenomena ini terlihat jelas pada sejumlah perusahaan dengan kapitalisasi pasar besar yang justru mengalami tren pelemahan harga di tengah tekanan pasar yang masih berlangsung hingga Rabu, 1 Juli 2026.

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi salah satu contoh di mana alokasi dana buyback sebesar Rp 3 triliun yang berjalan sejak 19 Juni 2026 belum mampu mengangkat harga saham dari level Rp 50.

Kondisi serupa dialami PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang mengalokasikan dana Rp 4 triliun sejak 9 Juni 2026.

Harga saham TLKM justru merosot dari posisi Rp 2.760 sebelum eksekusi buyback menjadi Rp 2.440 pada penutupan perdagangan hari ini.

Sektor perbankan pun tidak luput dari tren ini, di mana PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) belum menunjukkan respons positif yang signifikan dari pasar meski telah menyiapkan dana buyback hingga Rp 5 triliun sejak Maret 2026.

PT Astra International Tbk (ASII) juga mencatatkan realisasi pembelian kembali saham sebesar Rp 810,7 miliar, namun harga sahamnya hingga kini masih belum mencatatkan penguatan berarti.

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menegaskan bahwa buyback bukanlah strategi instan untuk memompa harga saham dalam jangka pendek.

Menurut Ekky, tujuan utama aksi korporasi tersebut adalah sebagai mekanisme untuk menahan laju penurunan harga serta memberikan sinyal kepada pasar bahwa manajemen meyakini valuasi saham perseroan sudah undervalued.

“Jadi, kalau setelah buyback harga saham masih belum naik signifikan, menurut saya bukan berarti strateginya gagal,” ujar Ekky, Rabu (1/7/2026).

Ia menambahkan bahwa masalah utama yang menekan harga saham saat ini bersifat makro, yakni lemahnya kepercayaan investor domestik dan tren keluarnya modal asing atau net sell yang masif.

Hal senada diungkapkan Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, yang menyebutkan bahwa sentimen pasar dan arus modal lebih mendominasi pergerakan harga dibandingkan aksi buyback itu sendiri.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menambahkan bahwa tekanan jual dari sisi eksternal saat ini jauh lebih besar daripada kemampuan daya serap buyback secara nominal.

Meski efeknya tidak instan, para analis sepakat bahwa buyback tetap langkah strategis untuk memperkuat fundamental perusahaan dalam jangka panjang dengan meningkatkan laba per saham atau EPS.

Untuk investor yang berniat masuk, Ekky menyarankan untuk tetap fokus pada emiten dengan fundamental kuat seperti MBMA, TLKM, dan MYOR yang memiliki arus kas sehat.

Elandry turut memberikan rekomendasi pada saham-saham berfundamental solid seperti BBCA, BMRI, TLKM, ASII, dan ERAA sebagai pilihan investasi jangka panjang.

Keputusan investasi disarankan untuk tidak hanya berpaku pada aksi buyback, melainkan tetap mengacu pada prospek kinerja perusahaan ke depan.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar