Petani Merauke Tingkatkan Produktivitas Padi Melalui Pertanian Modern

Petani Merauke tekan biaya produksi signifikan dengan teknologi PM-AAS, gunakan drum seeder dan drone, tingkatkan produktivitas padi hingga 10 ton per hektare, gandakan pendapatan petani.

Rayhan Akhari

metode-modern-dobelkan-cuan-petani,-ongkos-tanam-susut-rp2,4-juta
Metode Modern Dobelkan Cuan Petani, Ongkos Tanam Susut Rp2,4 Juta

Merauke – Petani di Kampung Candra Jaya, Kabupaten Merauke, kini mampu menekan biaya produksi secara signifikan berkat adopsi teknologi pertanian modern.

Efisiensi biaya tersebut dicapai melalui penerapan program Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang digagas Kementerian Pertanian.

Salah satu petani, Abdul Rokim, mengungkapkan bahwa penggunaan alat drum seeder atau metode paralon berhasil memangkas ongkos tanam hingga jutaan rupiah.

“Kalau pakai metode paralon cuma Rp600 ribu per hektare, jadi kita bisa menghemat sekitar Rp2,4 juta per hektare,” ujar Abdul.

Sebelum beralih ke metode ini, ia harus mengeluarkan biaya hingga Rp3 juta per hektare untuk proses tanam dan pencabutan bibit.

Penghematan tersebut membuat petani dapat mengalihkan dana untuk kebutuhan lain seperti pembelian pupuk.

Selain efisiensi biaya, teknologi ini juga mendongkrak produktivitas padi secara drastis.

Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementan, Fadjry Djufry, menyebut metode ini berpotensi menggandakan pendapatan petani.

“Kalau hasilnya mencapai 10 ton per hektare, petani bisa memperoleh sekitar Rp5 juta per bulan selama empat bulan, jadi memang bisa dobel,” jelas Fadjry.

Metode PM-AAS mengombinasikan pengaturan jarak tanam sistem jajar legowo dengan mekanisasi modern.

Populasi tanaman meningkat dari kisaran 250 ribu menjadi hingga satu juta rumpun per hektare.

Petani lainnya, Angga Dwi Hardianto, menambahkan bahwa teknologi ini juga melibatkan penggunaan drone untuk pemupukan dan penyemprotan pestisida.

“Kemarin penyemprotan pakai drone, pemupukan juga memakai drone, jadi hemat tenaga lebih banyak,” kata Angga.

Pola tanam baru ini membuat pertumbuhan padi lebih seragam dan sehat karena sirkulasi udara serta cahaya matahari yang lebih optimal.

Pemerintah menargetkan produktivitas di wilayah tersebut naik dari rata-rata 5,5 ton menjadi 10 ton per hektare.

Program ini kini mulai diperluas penerapannya ke berbagai provinsi di Indonesia dengan penyesuaian karakteristik lahan masing-masing daerah.

Rekomendasi