Jakarta – Dominasi dolar Amerika Serikat (AS) di pasar global semakin menguat secara signifikan pada awal pekan ini.
Mata uang Negeri Paman Sam tersebut sukses menekan dua instrumen keuangan yang selama ini dikenal sebagai aset pelindung atau safe haven.
Data pasar Trading Economics menunjukkan pasangan kurs USD/CHF mencatatkan penguatan sebesar 0,30% atau naik 0,00238 poin ke level 0,80603 pada Senin (6/7/2026) pukul 19:11 WIB.
Tren serupa juga terjadi di pasar Asia, di mana dolar AS melompat lebih tinggi terhadap yen Jepang.
Pasangan USD/JPY terpantau melesat 0,60% atau bertambah 0,965 poin ke posisi 162.330.
Kondisi pasar keuangan saat ini dipengaruhi oleh ketidakpastian global yang membuat para investor cenderung menahan diri untuk melakukan transaksi besar.
Analis mata uang, Ibrahimi Assuaibi, memberikan peringatan bagi para pelaku pasar ritel untuk lebih berhati-hati.
Ia menyarankan investor untuk bersikap wait and see sebelum memutuskan kembali mengoleksi kedua valuta asing tersebut.
“Dinamika geopolitik terkini dan spekulasi internal The Fed mengenai potensi kenaikan suku bunga satu kali lagi di tahun 2026 telah menjadi bahan bakar penguatan dolar,” ujarnya dikutip dari Ibrahimi Assuaibi, Senin (6/7/2026).
Penguatan dolar AS secara terus-menerus ini berimplikasi langsung terhadap pasar domestik.
Harga beli mata uang asing menjadi jauh lebih mahal bagi para pelaku pasar di dalam negeri.
Ibrahim menegaskan bahwa dalam situasi pasar yang fluktuatif, langkah terburu-buru melakukan transaksi sangat tidak disarankan.
“Tapi saat ini kan dengan harga yang lebih mahal wait and see dulu untuk para investor. Karena dalam kondisi saat ini dolar terus menguat akan berpengaruh terhadap pelemahan mata uang rupiah,” tegasnya.
Di sisi lain, analis Lukman Leong memberikan alternatif strategi bagi investor yang tetap ingin masuk ke pasar.
Menurutnya, strategi akumulasi secara bertahap menjadi opsi terbaik untuk menjaga diversifikasi portofolio di tengah ketidakpastian.
“Untuk proyeksi sepekan ke depan, Ibrahim memprediksi pasangan USD/JPY bergerak pada rentang support 161,600 dan resistance 162,800, sedangkan USD/CHF di kisaran 0,80162–0,80729,” tutur Lukman dikutip dari Lukman Leong, Senin (6/7/2026).
Lebih jauh, Lukman memberikan pandangan mengenai target pergerakan mata uang hingga akhir tahun 2026.
Ia memproyeksikan indeks dolar (DXY) akan berada pada kisaran 100 hingga 103.
Sementara itu, untuk pasangan USD/JPY diprediksi berada di rentang 150 hingga 165.
Adapun untuk USD/CHF, Lukman memperkirakan pergerakan berada di kisaran 0,81 hingga 0,83.
Seluruh proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi bahwa tidak akan ada perubahan kebijakan moneter yang drastis dari bank sentral utama dunia dalam waktu dekat.
Ketidakpastian geopolitik diprediksi masih akan menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan pasar valas global sepanjang sisa tahun 2026.
























