Jakarta – PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) menghadapi tantangan operasional yang cukup signifikan akibat fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sepanjang tahun 2026.
Meskipun demikian, prospek kinerja fundamental emiten farmasi ini diproyeksikan tetap terjaga di jalur positif hingga penutupan tahun.
Ketergantungan perusahaan terhadap bahan baku impor menjadi faktor utama yang memicu tekanan pada margin laba perseroan.
Mayoritas bahan baku aktif farmasi atau Active Pharmaceutical Ingredients (API) yang digunakan Kalbe masih didatangkan dari luar negeri.
Saat ini, hanya sekitar 20% dari total kebutuhan API yang mampu diproduksi oleh industri dalam negeri.
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah secara langsung mengerek biaya impor bahan baku kimia tersebut.
“Namun, terdapat inventory buffer yang dapat mengoffset tekanan tersebut dalam jangka pendek,” ujarnya dikutip dari pernyataannya, Kamis (9/7/2026).
Pihak manajemen Kalbe diketahui masih memiliki cadangan persediaan bahan baku untuk kebutuhan operasional selama empat bulan atau sekitar 120 hari.
Kondisi tersebut memberikan bantalan sementara bagi perusahaan untuk meredam dampak kenaikan biaya produksi yang lebih drastis.
Equity Research Analyst OCBC Sekuritas, Jessica Leonardy, menyoroti sensitivitas kinerja keuangan perusahaan terhadap pergerakan kurs.
Menurut analisisnya, setiap pelemahan mata uang sebesar Rp 100 terhadap dolar AS berpotensi menggerus margin laba kotor atau gross profit margin (GPM) sekitar 0,1%.
Jessica dalam riset tertanggal 15 Juni 2026 menambahkan bahwa biaya bahan baku, termasuk API dan kemasan, menyumbang hingga 75% dari biaya produksi barang.
“Dengan mempertimbangkan kenaikan harga API-khususnya untuk parasetamol dan obat-obatan saluran pencernaan-serta pelemahan rupiah yang meningkatkan biaya impor, analis memperkirakan margin laba kotor Kalbe turun menjadi sekitar 38% pada 2026 dibanding tahun sebelumnya,” jelasnya.
Sebagai langkah mitigasi, Kalbe kini memperluas diversifikasi sumber pasokan dan meningkatkan stok bahan baku.
Selain itu, perusahaan melakukan penyesuaian harga secara selektif pada lini produk nutrisi dan kesehatan konsumen.
Equity Research Analyst Ciptadana Sekuritas, Alif Ihsanario, mencatat bahwa ruang untuk menaikkan harga jual rata-rata memang cukup terbatas.
Hal ini dipengaruhi oleh negosiasi kontrak ketat dari pihak rumah sakit, meskipun regulasi penetapan harga sudah lebih fleksibel.
Namun, segmen produk gaya hidup sehat seperti susu anak premium dan produk nutrisi fungsional tetap menjadi tumpuan pertumbuhan.
Secara keseluruhan, pendapatan KLBF pada 2026 diprediksi mencapai Rp 37,92 triliun, tumbuh 7,3% dibandingkan tahun sebelumnya.
Laba bersih perseroan pun diperkirakan berada di angka Rp 3,75 triliun atau naik 2,2% secara tahunan.
Katalis positif lainnya datang dari tren kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan penyakit dan potensi penurunan suku bunga yang dapat memicu daya beli.
Berdasarkan proyeksi tersebut, analis dari Samuel Sekuritas dan OCBC Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli saham KLBF, sementara Ciptadana Sekuritas memberikan rekomendasi tahan.























