Jakarta – Kapal tanker Pertamina Pride milik PT Pertamina (Persero) akhirnya berhasil melintasi Selat Hormuz setelah tertahan selama empat bulan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Data pelacakan kapal MarineTraffic per Rabu (8/7) mengonfirmasi posisi tanker tersebut kini berada di perairan Oman.
Kapal yang dioperasikan oleh PT Pertamina International Shipping (PIS) itu tengah berlayar dengan kecepatan 10 knot menuju Kilang Pertamina Cilacap, Jawa Tengah.
Sebelumnya, kapal ini terpaksa menghentikan pelayarannya di Teluk Arab sejak awal Maret akibat ketegangan antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel.
Keberhasilan ini menjadikan Pertamina Pride sebagai salah satu dari sedikit kapal tanker yang mampu keluar dari zona konflik di Selat Hormuz.
Laporan Reuters menyoroti bahwa kapal tersebut berhasil lolos di tengah meningkatnya ancaman keamanan yang membahayakan jalur pelayaran internasional.
Sebelumnya, pihak manajemen Pertamina sempat memberikan keterangan terkait hambatan yang dialami armada mereka di wilayah tersebut.
“Untuk kapal Pertamina Pride sampai dengan saat ini kami sedang memproses perizinannya. Selat Hormuz juga memanas kembali sehingga pelaksanaan kargo dari Pride masih tertunda,” ujar Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, dikutip dari pernyataan resmi perusahaan (2/7).
Baron menambahkan bahwa muatan minyak mentah yang dibawa kapal tersebut sangat dibutuhkan untuk operasional Kilang Pertamina Cilacap.
“Nanti jika sudah bisa berlayar dari Selat Hormuz, kapalnya ke Kilang Cilacap,” imbuh Baron.
Selain Pertamina Pride, perusahaan juga memiliki kapal tanker lain, yakni Gamsunoro, yang sempat terjebak di kawasan yang sama.
Kapal Gamsunoro telah lebih dulu melintasi titik kritis Selat Hormuz pada 25 Juni setelah menempuh perjalanan selama 16 jam.
Pjs. Sekretaris Perusahaan PIS, Vega Pita, menjelaskan bahwa keberangkatan kapal dilakukan melalui prosedur penilaian risiko yang komprehensif.
Keputusan tersebut diambil setelah berkoordinasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri serta perwakilan RI di Teheran.
“Pemilihan waktu dan rute di Selat Hormuz telah melalui pembahasan dan penilaian risiko yang sangat ketat,” ujar Vega dikutip dari keterangan pers perusahaan.
Ia menambahkan bahwa perusahaan telah memenuhi puluhan persyaratan krusial guna menjamin keselamatan aset dan awak kapal.
“Kami mencatat puluhan persyaratan yang harus dipenuhi kapal, mulai dari asuransi, aspek teknis dan operasional, keamanan, hingga kesiapan kru,” lanjut Vega.
Meskipun Pertamina Pride telah keluar dari area berbahaya, situasi keamanan di kawasan Timur Tengah dilaporkan masih fluktuatif.
Data internasional menunjukkan beberapa kapal tanker lain bahkan sempat memilih berbalik arah akibat serangan yang kembali terjadi di sekitar Selat Hormuz.
Hingga saat ini, pihak Pertamina belum memberikan tanggapan lebih lanjut mengenai detail teknis keberangkatan terakhir tersebut.
Keberhasilan evakuasi kapal ini menjadi langkah krusial bagi Pertamina dalam menjaga stabilitas pasokan energi nasional di tengah gejolak geopolitik global.






















