Jakarta – Pemerintah Indonesia resmi memperkuat integritas pasar karbon nasional melalui peluncuran Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) pada Kamis (9/7).
Platform digital ini dirancang untuk menjamin transparansi penuh dengan melacak seluruh siklus penggunaan kredit karbon secara real-time.
Sistem tersebut dilengkapi dengan fitur pengenal unik atau unique identifier yang berfungsi sebagai identitas digital bagi setiap unit karbon.
Teknologi ini menjadi instrumen krusial untuk mengeliminasi risiko penghitungan ganda yang selama ini menjadi tantangan dalam perdagangan karbon global.
“Indonesia tengah menguji coba penggunaan pengenal unik (unique identifier) untuk setiap kredit karbon, sehingga bisa menekan kekhawatiran terkait perhitungan ganda dan persoalan serupa,” ujar Managing Director Climate Data Steering Committee (CDSC), Alice Carr, Kamis (9/7).
SRUK tidak hanya mencatat asal-usul kredit karbon, tetapi juga mendokumentasikan pihak yang melakukan proses retirement di akhir siklus.
Transparansi data yang komprehensif ini bertujuan untuk membangun kepercayaan investor serta meningkatkan kualitas pasar karbon dalam negeri.
Pembangunan sistem ini mengadopsi praktik terbaik yang dirumuskan oleh forum G20 pada tahun sebelumnya.
“Indonesia membangun sistem registri dengan basis data yang sangat kuat dan ini membantu menghubungkannya dengan seluruh dunia,” kata Alice.
Langkah ini menjadikan Indonesia sebagai pionir dalam penerapan standar data karbon internasional yang kredibel.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan posisi strategis Indonesia sebagai negara pertama yang bermitra dengan CDSC dalam pengembangan ekosistem ini.
“Indonesia adalah negara pertama di dunia yang menjalin kerja sama dengan CDSC dan berhasil menyelaraskan sistem dengan standar data internasional yang berintegritas, kredibel, dan terpercaya,” ungkap Zulkifli Hasan saat peresmian sistem tersebut.
Kolaborasi ini berakar pada nota kesepahaman yang ditandatangani pemerintah pada Maret lalu terkait pengujian common carbon credit data model.
Kerangka kerja tersebut diproyeksikan mampu menyederhanakan proses integrasi pasar karbon domestik dengan pasar internasional.
Selain itu, standarisasi data diyakini akan mempermudah interoperabilitas informasi lintas negara di masa depan.
Pemerintah menyadari bahwa potensi kekayaan karbon Indonesia menuntut adanya sistem tata kelola yang jauh lebih kuat dan akuntabel.
Kredit karbon diproyeksikan menjadi pilar pembiayaan penting untuk mendukung transisi teknologi dan pengembangan industri berkelanjutan di Indonesia.
Upaya ini mendapatkan apresiasi tinggi dari komunitas internasional karena dianggap sebagai langkah transformatif yang progresif.
“Langkah penting yang diambil Indonesia, bahkan lebih dulu dibandingkan banyak negara besar lainnya yang perlu menerapkan kebijakan serupa, merupakan langkah yang sangat penting,” tutur Alice.
Dengan sistem yang terintegrasi, Indonesia kini memiliki landasan kuat untuk memposisikan diri sebagai pemain utama dalam perdagangan karbon global yang transparan.























