Jakarta – Pasar energi global mengalami guncangan signifikan setelah harga minyak mentah jenis Brent melonjak 5,70% hingga menembus level US$ 78,385 per barel pada Rabu (8/7/2026).
Peningkatan harga tersebut tercatat terjadi pada pukul 18:21 WIB.
Data dari Trading Economics menunjukkan komoditas energi ini melesat sebesar 4,225 poin dalam basis harian.
Secara kumulatif, harga minyak Brent telah melompat 9,50% hanya dalam kurun waktu satu pekan terakhir.
Meski demikian, jika dilihat dari performa bulanan, komoditas ini masih berada dalam fase koreksi sebesar 14,31%.
Lonjakan drastis harga minyak global ini dipicu oleh keputusan Amerika Serikat yang mencabut lisensi ekspor minyak Iran.
Kebijakan tersebut diambil sebagai respons atas serangan terhadap tiga kapal komersial yang terjadi di Selat Hormuz.
Ketegangan geopolitik ini memicu kenaikan tajam pada premi risiko energi di pasar internasional.
Kondisi tersebut secara langsung memperkuat kekhawatiran para pelaku pasar mengenai ancaman kembalinya tekanan inflasi global.
Dampak dari gejolak di sektor energi ini tidak berhenti pada komoditas minyak, melainkan merembet hingga ke pasar aset kripto.
Analis Reku, Andri Fauzan, menyatakan bahwa kenaikan harga energi memicu kekhawatiran baru terkait kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
“Harga energi yang naik berarti inflasi berpotensi meningkat lagi. Kalau inflasi naik, peluang The Fed memangkas suku bunga semakin kecil, bahkan bisa berbalik arah,” ujar Andri dikutip dari keterangan tertulis, Rabu (8/7/2026).
Perubahan ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga ini secara langsung memengaruhi selera risiko investor di seluruh dunia.
“Dan ketika suku bunga diperkirakan tetap tinggi lebih lama, aset berisiko seperti Bitcoin dan altcoin biasanya yang pertama kena tekanan,” imbuhnya.
Saat ini, Bitcoin tampak tertekan di kisaran harga US$ 62.500 hingga US$ 63.750 per koin.
Posisi tersebut turun setelah pada hari sebelumnya mata uang kripto ini sempat menyentuh level US$ 63.900.
Penurunan ini sekaligus memperpanjang tren negatif bagi Bitcoin yang telah menyusut sekitar 28% sepanjang tahun 2026 berjalan.
Para pelaku pasar kini diimbau untuk lebih disiplin dalam mencermati batas bawah pergerakan teknikal aset kripto.
Andri menegaskan bahwa level harga US$ 60.000 hingga US$ 62.000 menjadi area krusial bagi Bitcoin.
Area tersebut akan menjadi penentu apakah tekanan jual terhadap aset kripto utama ini masih akan berlanjut atau justru menemukan titik jenuh untuk kembali menguat.
Sentimen pasar global saat ini sangat sensitif terhadap data inflasi yang didorong oleh kenaikan harga energi.
Investor kini menanti respons lanjutan dari otoritas moneter global terkait stabilitas ekonomi di tengah ketegangan geopolitik yang memanas.





















