New York – Bursa saham Amerika Serikat di Wall Street menunjukkan pergerakan yang variatif pada pembukaan perdagangan Kamis (9/7/2026).
Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite terpantau mencatatkan penguatan di awal sesi.
S&P 500 dibuka naik 8,9 poin atau 0,12 persen ke posisi 7.491,6.
Nasdaq Composite turut menguat 47,7 poin atau 0,18 persen menjadi 25.918,311.
Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average justru melemah 98,9 poin atau 0,19 persen ke level 52.249,44.
Gejolak di pasar saham AS dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Militer AS diketahui melancarkan serangan baru terhadap Iran dengan tujuan menjaga akses Selat Hormuz tetap terbuka bagi lalu lintas pelayaran internasional.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan terhadap aset-aset milik AS yang berada di wilayah Kuwait dan Bahrain.
Kondisi ini memicu kekhawatiran pelaku pasar akan potensi konflik berkepanjangan yang dapat menciptakan ketidakstabilan ekonomi global.
Presiden Donald Trump berupaya meredam kepanikan investor dengan memberikan pernyataan publik terkait situasi tersebut.
“Saya tidak mengharapkan kembalinya perang skala penuh meskipun terjadi kegagalan gencatan senjata,” ujar Presiden Donald Trump dikutip dari laporan resmi pemerintah, Kamis (9/7/2026).
Trump juga menegaskan bahwa gencatan senjata sementara yang sebelumnya disepakati telah berakhir.
Di tengah ketegangan tersebut, sektor teknologi, khususnya saham-saham chip, memberikan dukungan positif bagi pasar.
ETF iShares Semiconductor tercatat naik 4,4 persen dalam perdagangan pra-pasar sebagai bentuk pemulihan dari sesi sebelumnya.
Namun, tidak semua saham teknologi bernasib serupa karena adanya kekhawatiran mengenai keberlanjutan reli pasar tahun ini.
Saham IBM dan Microsoft masing-masing terkoreksi 4,5 persen dan 1,5 persen.
Penurunan ini dipicu oleh laporan yang menyebutkan bahwa Starbucks mulai mengurangi ketergantungan pada dua raksasa teknologi tersebut dengan mengadopsi sistem AI mandiri.
Perusahaan perangkat lunak lainnya pun ikut tertekan, seperti ServiceNow yang turun 4,3 persen dan Adobe yang melemah 3,5 persen.
Meta Platforms juga mencatatkan penurunan saham sebesar 4 persen.
Hal itu terjadi setelah muncul laporan mengenai rencana perusahaan untuk memproduksi chip kecerdasan buatan sendiri mulai September mendatang.
Investor saat ini sedang melakukan evaluasi ulang terhadap optimisme pasar yang sempat tumbuh terkait penyelesaian konflik di Timur Tengah.
Di luar isu geopolitik, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan sinyal yang cukup beragam.
Jumlah warga Amerika yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran tercatat menurun pada pekan lalu.
Data ini mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja masih berada dalam kondisi stabil.
Stabilitas tenaga kerja tersebut terjadi di tengah perlambatan pertumbuhan lapangan kerja yang sempat terjadi pada Juni lalu.
Sementara itu, arah kebijakan moneter The Fed masih menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Federal Reserve di bawah kepemimpinan Ketua baru, Kevin Warsh, memutuskan untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan Juni.
Namun, risalah pertemuan yang dirilis Rabu menunjukkan adanya perdebatan di antara para pembuat kebijakan.
Beberapa pejabat sempat mempertimbangkan opsi kenaikan biaya pinjaman sebelum akhirnya sepakat untuk menahan suku bunga.
Berdasarkan data LSEG, para pedagang saat ini memperkirakan adanya setidaknya satu kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh kinerja emiten yang merilis laporan keuangan.
Saham Levi Strauss turun 4 persen meskipun produsen denim tersebut telah menaikkan perkiraan penjualan tahunannya.
Kondisi serupa dialami oleh PepsiCo yang sahamnya turun 2 persen, meski perusahaan tersebut berhasil melampaui estimasi pendapatan kuartal kedua.























