Jakarta – Perusahaan agritech Rize berhasil mengamankan pendanaan Seri B senilai US$31 juta atau setara dengan Rp500 miliar.
Investasi jumbo ini dipimpin oleh BNP Paribas Asset Management Alts dengan partisipasi signifikan dari The Rockefeller Foundation.
Sejumlah investor awal, seperti Temasek dan Breakthrough Energy Ventures, turut memberikan tambahan modal dalam putaran pendanaan tersebut.
Perolehan dana segar ini menjadikan total modal yang telah dihimpun Rize sejak berdiri mencapai US$47 juta atau sekitar Rp800 miliar.
“Hal ini merupakan pengakuan atas fondasi yang telah kami bangun, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa kami siap menciptakan sistem pangan yang lebih terhubung, tangguh, dan berkelanjutan bagi para petani kecil,” ujar Co-Founder dan CEO Rize, Dhruv Sawhney, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Kamis (16/7).
Rencananya, dana tersebut akan dialokasikan untuk ekspansi operasional di Indonesia, Vietnam, serta sejumlah negara lain di Asia Tenggara.
Rize sendiri merupakan perusahaan bentukan tahun 2022 yang lahir dari kolaborasi strategis antara Temasek dan Breakthrough Energy Ventures.
Fokus utama perusahaan adalah mengembangkan solusi dekarbonisasi untuk menekan emisi gas rumah kaca pada sektor pertanian di kawasan Asia.
Data menunjukkan bahwa budidaya padi menyumbang sekitar 12 persen emisi metana global.
Emisi tersebut muncul akibat praktik penggenangan sawah terus-menerus yang menciptakan kondisi tanpa oksigen, sehingga memicu pembentukan gas metana.
Untuk mengatasi hal tersebut, Rize menerapkan model budidaya Alternate Wetting and Drying (AWD).
Metode irigasi ini membiarkan lahan sawah mengalami periode basah dan kering secara bergantian untuk menekan emisi.
Rize mengklaim teknik ini mampu memangkas emisi metana hingga 50 persen dan menghemat penggunaan air sebanyak 20 hingga 30 persen.
Selain aspek lingkungan, metode tersebut juga diklaim mampu meningkatkan pendapatan petani hingga 30 persen tanpa mengurangi volume hasil panen.
Dana investasi akan digunakan untuk membangun sistem penelusuran rantai pasok agar beras rendah emisi lebih mudah diakses oleh pasar.
Perusahaan juga akan memperluas jangkauan ke lebih banyak petani, memperkuat inovasi teknologi, serta meningkatkan standar kepatuhan residu pestisida.
Saat ini, Rize telah menjalin kemitraan dengan 17 ribu petani kecil yang mengelola lebih dari 50 ribu hektar lahan di Indonesia dan Vietnam.
Pihak BNP Paribas menilai bahwa keunggulan Rize terletak pada integrasi antara pertanian berkelanjutan dan pembiayaan karbon.
“Ini sangat selaras dengan strategi kami untuk melindungi, memulihkan, dan mengelola ekosistem alam secara berkelanjutan sekaligus memberikan imbal hasil finansial yang kompetitif bagi para investor,” ujar Head of Natural Capital & Impact Investments, BNP Paribas Asset Management Alts, Alexandre Martin-Min, sesuai dengan pernyataan resmi perusahaan, Kamis (16/7).
Sementara itu, Vice President of Innovative Finance at The Rockefeller Foundation, Slav Gatchev, menekankan pentingnya dukungan terhadap petani kecil.
“Kami bangga dapat mendukung upaya Rize dalam mendorong penerapan praktik regeneratif berbasis teknologi, yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil panen dan pendapatan para petani yang paling membutuhkan dukungan,” tutur Gatchev, seperti yang tertuang dalam dokumen rilis resmi, Kamis (16/7).






















