Manuver Emiten Kongsi Prajogo-Hapsoro SINI Kuasai Tambang Batu Bara Kalimantan

Ikhwan Setiawan

Manuver Emiten Kongsi Prajogo-Hapsoro SINI Kuasai Tambang Batu Bara Kalimantan

Jakarta – PT Singaraja Putra Tbk (SINI) resmi memperluas dominasinya di sektor pertambangan batu bara nasional melalui langkah akuisisi strategis senilai Rp 1,73 triliun.

Perusahaan yang terafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu dan Happy Hapsoro ini mengambil alih 99 persen saham PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) dari PT Petrosea Tbk (PTRO).

Nilai akuisisi tersebut tercatat setara dengan 110,26 persen dari total aset perseroan, sehingga dikategorikan sebagai transaksi material.

Langkah korporasi ini memberikan SINI kendali penuh atas anak usaha PTRO, yakni PT Cristian Eka Pratama (CEP).

CEP merupakan pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi yang memiliki masa berlaku hingga Juli 2038.

Berdasarkan laporan tenaga ahli per 31 Desember 2025, CEP tercatat menyimpan cadangan batu bara sebesar 69,25 juta ton di lahan seluas 4.776 hektare, berlokasi di Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Manajemen SINI menyatakan bahwa aksi korporasi ini berpotensi memberikan dampak positif terhadap usaha pertambangan batu bara perseroan melalui peningkatan aset, cadangan, kapasitas produksi, dan pertumbuhan laba, sebagaimana dikutip dari Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia, Rabu (22/7/2026).

Dengan akuisisi ini, SINI kini mengoperasikan tambang di dua wilayah berbeda, yakni Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Manajemen menilai perbedaan lokasi ini akan meningkatkan standar pembangunan infrastruktur serta efisiensi operasional perusahaan dalam jangka panjang.

Selain bertindak sebagai penjual saham KMS, PTRO tetap mempertahankan posisinya sebagai kontraktor pertambangan bagi anak usaha SINI, PT Pasir Bara Prima (PBP), dengan kontrak yang berlaku hingga 2032.

Pihak manajemen SINI menegaskan bahwa kontrak jasa pertambangan tersebut tidak berkaitan langsung dengan transaksi akuisisi KMS.

Namun, kolaborasi dengan PTRO sebagai mitra operasional diproyeksikan mampu menciptakan kontrak jasa yang lebih kompetitif melalui optimalisasi sumber daya dan alat berat.

Dari sisi finansial, perseroan memproyeksikan KMS akan mulai memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan konsolidasi pada tahun 2026 sebesar 21,4 persen.

Angka tersebut diperkirakan melonjak menjadi 27,06 persen pada tahun 2027, dengan proyeksi pendapatan mencapai US$ 158,97 juta.

Produksi batu bara di konsesi KMS ditargetkan meningkat secara bertahap dari 1 juta ton per tahun menjadi kapasitas optimal sebesar 5 juta ton per tahun.

SINI juga diuntungkan karena harga akuisisi ini berada di bawah nilai pasar yang ditetapkan oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP), yakni Rp 1,84 triliun.

Artinya, SINI berhasil memperoleh aset tersebut dengan harga 5,98 persen lebih murah dari nilai wajarnya.

Strategi ini diambil perseroan untuk merespons permintaan batu bara global yang masih kuat, khususnya dari pasar Cina dan India.

Di pasar domestik, kebutuhan listrik yang diproyeksikan tumbuh rata-rata 5,3 persen per tahun dalam RUPTL 2025-2034 turut menjadi katalis positif bagi bisnis perseroan.

Data bursa mencatat Happy Hapsoro saat ini menggenggam 43,29 juta saham SINI atau sekitar 9 persen dari total saham yang beredar.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar