New York – Eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak mentah global ke posisi tertinggi dalam enam pekan terakhir pada perdagangan Selasa, 8 September 2026.
Kenaikan ini dipicu oleh ancaman Iran yang menyatakan kesiapan untuk menyerang infrastruktur energi vital di kawasan tersebut sebagai respons atas potensi serangan Amerika Serikat terhadap aset-aset mereka.
Pasar bereaksi negatif terhadap situasi keamanan yang kian memburuk setelah insiden saling serang antara kapal tanker minyak dan kapal perang kedua negara selama akhir pekan lalu.
Harga minyak Brent tercatat melonjak sebesar US$ 1,03 atau setara 1,1% menjadi US$ 97,31 per barel, sebagaimana dilansir dari data Reuters.
Dalam sesi perdagangan yang sama, harga minyak jenis Brent sempat menyentuh level US$ 98,06 per barel, yang merupakan angka tertinggi sejak 24 Juli 2026.
Tren serupa juga terjadi pada minyak West Texas Intermediate (WTI) yang menguat 1,3% atau US$ 1,17 menjadi US$ 92,65 per barel.
Puncak harga WTI sempat menyentuh angka US$ 93,29 per barel, mencatatkan level tertinggi dalam kurun waktu yang sama dengan Brent.
Kekhawatiran pelaku pasar semakin diperparah oleh data lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang terus mengalami penurunan signifikan.
Perusahaan analitik Kpler mencatat rata-rata hanya terdapat 10 kapal komoditas yang melintasi jalur krusial tersebut setiap harinya selama 10 hari terakhir.
Volume pelayaran ini tercatat sebagai angka terendah sejak Mei, mencerminkan ketakutan para operator kapal terhadap risiko keamanan di jalur perdagangan energi utama dunia tersebut.
“Jika lalu lintas kapal tanker mulai melambat secara material, pasar dapat memperhitungkan guncangan pasokan yang jauh lebih besar. Sudah ada tanda-tanda bahwa hal tersebut mulai terjadi,” ujar Head of Market Insights Phillip Nova, Priyanka Sachdeva.
Proyeksi harga minyak bahkan berpotensi menembus angka US$ 120 per barel menurut analisis Goldman Sachs, terutama jika serangan terhadap kapal-kapal tanker terus meningkat.
Ketidakstabilan kawasan semakin memuncak menyusul serangan Israel di Lebanon selatan yang menewaskan sedikitnya 12 orang pada Senin (7/9).
Laporan dari Financial Times juga mengonfirmasi adanya serangan terhadap kilang minyak milik Saudi Aramco di Jazan, yang saat ini masih dalam tahap penilaian kerusakan.
Situasi di Selat Hormuz semakin tidak menentu dengan rencana Iran untuk menetapkan zona terbatas di luar jalur perairan strategis tersebut.
Sebagai langkah mitigasi, Uni Emirat Arab mulai mengalihkan rute melalui jalur alternatif guna menjaga stabilitas ekspor energi di tengah ancaman perang yang berkelanjutan.
Tekanan pasokan global juga diperburuk oleh kondisi persediaan bahan bakar di Amerika Serikat yang kini berada di bawah rata-rata musiman lima tahun terakhir.
Analis PVM Energy menilai bahwa defisit persediaan minyak dan produk turunannya saat ini menunjukkan kerentanan pasokan yang jauh lebih serius dibandingkan periode sebelumnya.
Di sisi lain, OPEC+ memutuskan untuk tetap mempertahankan kebijakan produksi minyak mereka untuk bulan Oktober dalam pertemuan terakhir pada Minggu (6/9).
Keputusan tersebut membuat pasar sepenuhnya bergantung pada perkembangan konflik Timur Tengah yang kini menjadi penentu utama arah harga minyak dunia.





















