Jakarta – PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mencatatkan kinerja finansial yang impresif sepanjang semester pertama tahun 2026.
Perusahaan berhasil membukukan kenaikan pendapatan sebesar 6,1% secara tahunan menjadi US$ 2,55 miliar.
Laba bersih perseroan pun turut terkerek naik sebesar 10,5% secara tahunan menjadi US$ 473,8 juta pada periode yang sama.
Solidnya performa ini didorong oleh harga jual rata-rata komoditas batubara yang cenderung menguat di pasar global.
Equity Analyst KB Valbury Sekuritas, Adolf R B Setiadi, menyatakan bahwa harga jual yang tinggi mampu menutupi penurunan volume produksi akibat kendala cuaca awal tahun.
Pernyataan tersebut disampaikan Adolf dalam risetnya pada Senin (7/9/2026).
Ia menambahkan, efisiensi biaya tunai yang tangguh menjadi faktor kunci stabilitas margin perusahaan.
Selain itu, rasio pengupasan yang meningkat tajam pada kuartal kedua 2026 turut memberikan kontribusi positif terhadap operasional perusahaan.
Manajemen AADI memastikan bahwa kondisi kekeringan akibat fenomena El Niño tidak mengganggu logistik pengangkutan batubara.
Volume pengangkutan tercatat meningkat 22,3% secara kuartalan menjadi 20,4 juta metrik ton pada kuartal kedua 2026.
Secara akumulatif pada semester pertama 2026, volume pengangkutan naik 4,3% menjadi 37,0 juta metrik ton dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Adolf memproyeksikan momentum operasional yang kuat akan terus berlanjut hingga akhir tahun 2026.
Menurutnya, kondisi cuaca yang lebih mendukung akan memfasilitasi aktivitas penambangan secara berkelanjutan.
“Lebih lanjut, harga batubara termal yang lebih kuat di laut akan mendukung ASP AADI, sementara pengetatan persediaan pembangkit listrik di India dan gangguan pasokan domestik di Tiongkok dapat membantu meningkatkan permintaan dari pasar ekspor untuk AADI,” ujar Adolf.
Selain sektor utama, AADI mulai melakukan diversifikasi pendapatan melalui penyewaan aset listrik dan layanan pendukung.
Kontribusi dari segmen ini tercatat sebesar US$ 44,2 juta pada semester pertama 2026, yang meski masih kecil, dinilai dapat meningkatkan kualitas margin jangka panjang.
Katalis positif lainnya datang dari rencana divestasi kepemilikan di Kestrel Coal Group kepada Yancoal.
Transaksi ini diperkirakan menghasilkan dana tunai sekitar US$ 888 juta yang akan diterima pada kuartal ketiga 2026.
Dana tersebut diproyeksikan menjadi pendorong utama bagi distribusi dividen kepada pemegang saham.
“Setiap pembayaran 10% dari hasil Kestrel dapat secara bertahap menambah sekitar 1,8% pada imbal hasil dividen tahun 2026, menciptakan katalis jangka pendek yang sangat menarik bagi dana pendapatan,” jelas Adolf.
Di sisi lain, Head of Equity Research BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan, menyoroti pentingnya kepastian kuota produksi melalui izin usaha pertambangan khusus (IUPK).
Erindra menilai status IUPK memberikan keunggulan struktural bagi AADI dibandingkan kompetitor di industri serupa.
Ia memprediksi kombinasi antara eksekusi operasional yang solid dan kenaikan harga komoditas akan menciptakan pertumbuhan ganda bagi laba perusahaan.
“Kombinasi eksekusi operasional yang kuat dengan tailwind harga batubara memberikan double engine growth untuk earnings AADI ke depan,” ucap Erindra.
Analis merekomendasikan beli untuk saham AADI dengan target harga berkisar antara Rp 12.400 hingga Rp 12.800 per lembar saham.





















