Rupiah Melemah ke Rp 18.095, Jadi Mata Uang Terlemah di Asia

Kholida Rahman

Rupiah Melemah ke Rp 18.095, Jadi Mata Uang Terlemah di Asia

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Selasa, 28 Juli 2026.

Mata uang Garuda mencatatkan pelemahan sebesar 0,47% ke level Rp 18.095 per dolar AS hingga pukul 11.11 WIB.

Data pasar spot menunjukkan rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terlemah di kawasan Asia pada hari ini.

Posisi tersebut melanjutkan tren negatif setelah pada penutupan perdagangan Senin (27/7/2026), rupiah sudah terkoreksi 0,26% ke level Rp 18.009 per dolar AS.

Kondisi pasar keuangan domestik saat ini dipengaruhi oleh sentimen ketidakpastian pasca pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia.

Head of Equity Research Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi, menilai mundurnya pimpinan tertinggi bank sentral tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap stabilitas rupiah dan pasar saham.

Meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah dilaporkan mereda, respons pasar cenderung tetap waspada terhadap stabilitas makroekonomi nasional.

Penunjukan Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas Gubernur Bank Indonesia dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga kontinuitas kelembagaan.

Namun, pelaku pasar tetap menantikan kejelasan mengenai proses suksesi kepemimpinan permanen di institusi tersebut dalam waktu dekat.

“Sentimen pasar jangka pendek akan sangat bergantung pada keyakinan terhadap independensi Bank Indonesia dan kelancaran transisi menuju kepemimpinan permanen,” ujar Prasetya dalam risetnya pada Selasa (28/7/2026).

Di sisi lain, terdapat faktor eksternal yang turut memengaruhi pergerakan mata uang dan prospek ekonomi domestik.

Penurunan harga minyak dunia diproyeksikan mampu meredakan tekanan inflasi serta beban fiskal negara dalam jangka menengah.

Namun, kebijakan tarif baru dari Amerika Serikat berpotensi mengganggu daya saing ekspor Indonesia serta meningkatkan ketidakpastian dalam arus perdagangan internasional.

Prasetya juga menyoroti adanya variabel domestik seperti kewajiban sertifikasi halal dan penguatan administrasi pajak yang kini menjadi perhatian pelaku usaha.

Reformasi tata kelola pada Badan Gizi Nasional (BGN) dinilai mampu meningkatkan kualitas institusi, meski di sisi lain menambah beban biaya kepatuhan bagi perusahaan.

“Prospek jangka panjang Indonesia tetap ditopang hilirisasi mineral dan layanan digital, tetapi kejelasan kebijakan, kesiapan infrastruktur, dan tata kelola yang kredibel akan menjadi kunci,” kata Prasetya.

Sementara itu, Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memberikan proyeksi teknikal terkait pergerakan mata uang lokal.

Ibrahim memperkirakan rupiah akan terus bergerak fluktuatif sepanjang hari ini.

Rupiah diprediksi akan ditutup pada rentang Rp 18.010 hingga Rp 18.060 per dolar AS.

Investor saat ini tengah memantau dengan saksama perkembangan kebijakan moneter domestik di tengah transisi kepemimpinan Bank Indonesia.

Stabilitas pasar keuangan dipandang sangat bergantung pada bagaimana pemerintah dan otoritas moneter merespons tantangan ekonomi global yang sedang terjadi.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar