Jakarta – Program magang nasional kini menjadi jembatan efektif bagi lulusan perguruan tinggi untuk mendapatkan pekerjaan tetap.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mencatat sebanyak 30 persen peserta magang angkatan pertama berhasil diserap menjadi karyawan di perusahaan tempat mereka belajar.
“Alhamdulilah sudah selesai dan 30 persen yang mereka magang di industri ditawari kerja di perusahaan tempat dia magang sebelum magangnya selesai,” ujar Yassierli dalam pembukaan Pameran Job Fair secara online, Selasa (28/7).
Tingginya minat lulusan baru terhadap program ini terlihat dari jumlah pendaftar yang membeludak.
Yassierli mengungkapkan, untuk kuota 50 ribu peserta pada batch pertama angkatan kedua, jumlah pendaftar telah mencapai 300 ribu orang.
“Sekarang hari terakhir pendaftaran pemagangan untuk lulusan perguruan tinggi satu tahun terakhir. Posisi 50 ribu yang daftar sudah 300 ribu. Ini luar biasa, baru batch satu,” jelasnya.
Pemerintah sendiri telah menetapkan kuota magang nasional angkatan kedua sebanyak 150 ribu orang, meningkat dari angkatan sebelumnya yang berjumlah 100 ribu peserta.
Kuota tersebut akan dibagi ke dalam tiga batch dengan masing-masing sasaran 50 ribu peserta.
Selain peluang kerja, peserta magang juga mendapatkan uang saku yang ditransfer langsung ke rekening masing-masing selama satu semester.
Besaran uang saku tersebut mengikuti standar Upah Minimum Regional (UMR) di wilayah tempat peserta magang bekerja.
Yassierli memberi sinyal bahwa nilai uang saku tersebut berpotensi mengalami kenaikan pada tahun depan.
“Jadi kalau anggaran yang di Jakarta uang sakunya Rp5,7 juta per bulan, dikali enam bulan, mungkin tahun depan naik lagi itu,” pungkasnya.






















