Laba Grup Chandra Asri Merosot Tajam pada Semester I 2026

Rayhan Akhari

Laba Grup Chandra Asri Merosot Tajam pada Semester I 2026

Jakarta – Kinerja keuangan emiten Grup Chandra Asri milik konglomerat Prajogo Pangestu mengalami tekanan signifikan sepanjang semester pertama tahun 2026.

PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mencatatkan penurunan laba bersih yang tajam sebesar 77,53% secara tahunan (year on year).

Perusahaan hanya mampu membukukan laba sebesar US$ 283,23 juta atau sekitar Rp 5,06 triliun pada paruh pertama tahun ini.

Capaian tersebut jauh di bawah perolehan laba pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$ 1,26 miliar.

Ironisnya, penurunan laba ini terjadi di tengah lonjakan pendapatan perseroan sebesar 83,6% secara tahunan.

Total pendapatan TPIA tercatat mencapai US$ 5,34 miliar, meningkat signifikan dari US$ 2,91 juta pada periode sebelumnya.

Kontribusi pendapatan terbesar disumbang oleh penjualan energi dan kimia di pasar luar negeri.

Penjualan energi di pasar internasional mencapai US$ 3,32 miliar, sementara sektor kimia menyumbang US$ 1,25 miliar.

Namun, peningkatan pendapatan tidak dibarengi dengan efisiensi biaya produksi yang memadai.

Beban bahan baku serta biaya manufaktur melonjak drastis dari US$ 2,89 miliar menjadi US$ 4,46 miliar.

Peningkatan beban juga terjadi pada sektor penyusutan, biaya penjualan, serta beban umum dan administrasi perusahaan.

Selain itu, beban keuangan perseroan membengkak menjadi US$ 187,9 juta dibandingkan US$ 113,5 juta pada semester pertama 2025.

Manajemen TPIA menyatakan bahwa perusahaan saat ini berupaya memperkuat struktur permodalan.

Langkah tersebut mencakup peningkatan porsi saham free float hingga 25,7% serta penerbitan Obligasi Berkelanjutan V senilai Rp 6 triliun.

“Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan fleksibilitas keuangan, memperkuat tata kelola, dan memperluas basis investor,” ujar manajemen TPIA sebagaimana dikutip dari Laporan Semesteran Perusahaan, Kamis (30/7/2026).

Di sisi operasional, perseroan tengah melakukan integrasi bisnis energi pascaakuisisi Aster.

TPIA memproyeksikan fasilitas di Pulau Bukom dapat berkontribusi terhadap EBITDA sebesar US$ 20 juta per bulan mulai kuartal IV 2026.

Sementara itu, progres pembangunan pabrik chlor alkali-ethylene dichloride (CA-EDC) telah mencapai 72% dan dijadwalkan beroperasi pada 2027.

Tekanan serupa juga dialami oleh anak usaha mereka, yakni PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA).

Laba bersih CDIA anjlok menjadi US$ 17,28 juta dari US$ 67,84 juta pada tahun lalu.

Meskipun pendapatan CDIA naik 22,8% menjadi US$ 82,15 juta, kenaikan tersebut tidak mampu menutupi lonjakan beban keuangan.

Beban keuangan CDIA tercatat melonjak sebesar 66,5% menjadi US$ 22,59 juta sepanjang semester pertama 2026.

Kondisi ini menyebabkan laba sebelum pajak perusahaan merosot tajam hingga 63,5% secara tahunan.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar