Daftar Saham PER Terendah dan Tertinggi LQ45, MDKA dan AMMN Disorot

persen

Daftar Saham PER Terendah dan Tertinggi LQ45, MDKA dan AMMN Disorot

Jakarta – Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa, 15 September 2026, mencatatkan dinamika yang kontras pada indeks LQ45, terutama dipicu oleh tekanan jual pada sektor pertambangan berkapitalisasi besar.

Indeks LQ45 menunjukkan pergerakan yang sangat beragam di tengah respons pasar terhadap kinerja emiten.

Sektor perbankan tampil sebagai penopang utama pasar melalui penguatan signifikan.

PT Bank Tabungan Negara (BBTN) mencatatkan kenaikan harga saham sebesar 3,40 persen hingga ditutup pada level 1.215.

PT Bank Negara Indonesia (BBNI) menyusul dengan apresiasi harga sebesar 3,20 persen ke level 3.870.

Kinerja positif perbankan ini berbanding terbalik dengan sektor komoditas yang mengalami tekanan cukup dalam.

PT Merdeka Copper Gold (MDKA) menjadi saham dengan koreksi terdalam di antara 20 saham yang dipantau, yakni merosot hingga 5,57 persen ke level 2.880.

Penurunan juga melanda PT Aneka Tambang (ANTM) yang terkoreksi 2,45 persen, serta PT Trimegah Bangun Persada (NCKL) yang melemah 2,13 persen.

Sementara itu, PT Amman Mineral Internasional (AMMN) terpantau melawan arus dengan mencatatkan penguatan sebesar 4,94 persen di tengah pelemahan emiten tambang lainnya.

Analisis pasar menggunakan indikator fundamental Price Earning Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV) memberikan gambaran valuasi emiten saat ini.

PER mengukur perbandingan antara harga saham dengan laba bersih per saham yang dihasilkan perusahaan.

Di sisi lain, PBV memberikan perbandingan harga saham dengan nilai aset bersih perusahaan per lembar sahamnya.

Berdasarkan data Pusat Data Kontan, PT Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) saat ini memegang status sebagai emiten dengan PBV terendah, yakni 0,38 kali.

Kondisi pasar yang volatil juga terlihat pada beberapa saham besar lainnya.

PT Adaro Andalan Indonesia (AADI) terpantau stagnan di harga 12.225.

PT Merdeka Battery Materials (MBMA) dan PT Darma Henwa (DEWA) kompak mencatatkan koreksi masing-masing sebesar 2,88 persen dan 2,87 persen.

PT Barito Pacific (BRPT) juga tidak luput dari tekanan jual dengan penurunan harga mencapai 2,65 persen.

Investor kini tengah mencermati pergerakan harga komoditas global yang menjadi katalis utama bagi emiten-emiten sektor pertambangan di Indonesia.

Variasi pergerakan harga saham ini menunjukkan sentimen pasar yang selektif terhadap fundamental perusahaan.

Pelaku pasar diharapkan tetap memperhatikan rasio valuasi sebelum mengambil keputusan investasi di tengah fluktuasi indeks yang cukup dinamis.

Kondisi perdagangan pada periode ini merefleksikan adanya penyesuaian posisi investor terhadap potensi laba emiten di masa mendatang.

Seluruh data transaksi dan valuasi ini merujuk pada catatan resmi Pusat Data Kontan yang dirilis untuk memantau pergerakan pasar modal domestik secara transparan.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar